Koranindopos.com, Jakarta – Andovi da Lopez menjalani proses cukup panjang untuk memerankan Jonas, kandidat Gubernur Jakarta dalam film Bapak Paling Jujur. Untuk memahami karakter tersebut, ia mengikuti proses reading dan bekerja bersama acting coach sebelum menjalani pengambilan gambar.
“Saya reading dengan waktu yang cukup lama. Reading duluan lah sampai bertemu dengan acting coach, ya saya duluan,” ucapnya saat ditemui di XXI Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026).
Dalam film arahan Fajar Nugros itu, Andovi tidak diarahkan untuk meniru sosok politik tertentu. Ia justru diminta memahami cara kerja kampanye dan berbagai strategi yang digunakan kandidat untuk memenangkan Pilkada.
Peran Jonas menjadi salah satu karakter yang cukup dekat dengan pengalaman Andovi selama berkarya. Sebelum bermain dalam film ini, ia sudah beberapa kali memerankan tokoh yang berkaitan dengan politik dalam konten maupun pertunjukan.
“Karena memang saya sejak 2014 di konten rap battle saya jadi Jokowi, kemudian 2019 dan 2024 menjadi Mas Anies Baswedan. Makanya emang, emang peran-peran seperti ini emang saya sangat cinta,” terangnya.
Ia juga melihat karakter Jonas sebagai kesempatan untuk menggabungkan pengalaman di dunia seni dengan hiburan.
“Jadi menurutku perfect antara seni dan entertainment. Dan, and it’s fun,” tambahnya.
Andovi mengatakan ketertarikannya terhadap karakter semacam itu sudah muncul sejak awal berkarya. Ia merasa beberapa peran yang pernah dimainkannya memiliki kaitan dengan figur publik.
“Dari Skinny sampai musikal dan sekarang film, ya memang karakter saya selalu berbau dengan tokoh. Tapi saya sangat suka dengan peran seperti ini,” kata Andovi da Lopez.
Bapak Paling Jujur sendiri mengambil latar cerita politik melalui sosok Jonas yang tengah mengikuti kontestasi Pilkada Jakarta. Film bergenre drama komedi ini tidak hanya membahas kandidat dan persaingan politik, tetapi juga persoalan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Andovi, persoalan tersebut tidak berhenti pada perilaku para politisi. Ia menilai masyarakat juga perlu melihat kembali sikap masing-masing, terutama ketika kehidupan sehari-hari semakin dipenuhi informasi dan citra yang dibuat di media sosial.
“Menurut gua, kita semua di ruangan ini sudah capek dengan kebohongan-kebohongan. Kita semua tahu fakeness di sosial media, penuh dengan AI, penuh dengan brain rot. We need genuine authenticity,” jelasnya.
Karena itu, Andovi berharap penonton tidak hanya melihat Bapak Paling Jujur sebagai cerita tentang politik. Menurut dia, film tersebut juga mengajak masyarakat mempertanyakan kejujuran diri sendiri.
“Film ini bukan cuma soal politisi atau pemimpin yang jujur atau tidak, tapi rakyat sendiri kita harus bercermin kepada diri kita sendiri: apakah kita jujur atau tidak?” ujar Andovi da Lopez. (BRG/Hend)










