
JAKARTA, koranindopos.com – Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) bersama Kedutaan Besar Persatuan Emirat Arab (PEA) melaksanakan kegiatan webinar dalam rangka untuk mengenalkan budaya dan warisan yang ada di UEA. Untuk mempererat hubungan baik antar kedua belah pihak yang telah terjalin dalam beberapa tahun terakhir. Dan kegiatan webinar ini merupakan kegiatan ketiga yang terlaksana atas kerja sama antara UAI dan Kedutaan Besar PEA di Jakarta.
Rektor Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc. menyampaikan ini langkah baik PEA dalam melakukan soft diplomacy dengan pendekatan sosial budaya, yaitu dengan mengenalkan warisan dan budaya mereka kepada Indonesia khususnya seluruh peserta webinar kali ini, yang didominasi oleh generasi muda yang diwakili oleh para mahasiswa dari berbagai instansi dan lembaga di Indonesia. Hal ini tidak lain merupakan media untuk saling mengenal lebih jauh antar kedua bangsa.
Bapak Rektor juga berkesempatan untuk menyampaikan tawaran atas kesepakatan senat universitas kepada Duta Besar PEA untuk Indonesia, H.E. Abdulla Salem Obaid Salem Aldhaheri, untuk menjadi anggota penasehat kehormatan Universitas Al Azhar Indonesia atas dasar kedekatan hubungan baik yang sudah terjalin antara UAI dan Kedubes PEA di Jakarta, yang kemudian langsung disambut baik oleh Duta Besar Persatuan Emirat Arab untuk Republik Indonesia. Sambutan Rektor UAI kemudian diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan berupa plakat kepada Duta Besar PEA.
Duta Besar PEA untuk Indonesia, H.E. Abdulla Salem Obaid Salem Aldhaheri memaparkan bahwa hubungan bilateral antara PEA dan Indonesia bukanlah hal baru. Hal ini tercermin pada hubungan baik yang dilakukan oleh kepala negara dari kedua negara dengan saling melakukan kunjungan kenegaraan satu sama lain, yang di antaranya adalah kunjungan bersejarah Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan pada 24 Juli 2019. Hal yang sama juga telah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo terutama yang baru saja terjadi pada awal bulan November ini, tanggal 2-4 November 2021. Dan ini merupakan lawatan ketiga yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo selama masa jabatanya, setelah kunjungan pertama pada bulan maret 2015 dan yang kedua pada bulan Januari 2020. Dan ini merupakan rangkaian lawatan luar negeri pertama yang dilakukan oleh presiden sejak menyebarnya wabah covid 19 di Indonesia. Dan pada kunjungan tersebut kedua negara telah melakukan 14 perjanjian bilateral dan kesepakatan investasi di berbagai bidang yang nilainya mencapai 468 triliun rupiah atau setera dengan 32,7 miliar dolar AS dalam rangka untuk pemulihan dan pengutatan ekonomi nasional akibat dampak covid 19.
Lebih lanjut Dubes PEA, H.E. Abdulla Salem Obaid Salem Aldhaheri, mengutarakan bahwa kerja sama bilateral antara kedua negara tidak hanya terjadi di bidang politik, ekonomi dan perdagangan, melainkan juga pada bidang pendidikan, sosial dan budaya yang termasuk di dalamnya masalah keagamaan dan kemanusiaan. Terkait dengan hal tersebut beliau menjelaskan bahwa Indonesia dan PEA telah menandatangani Nota Kesepahaman Kerjasama di bidang kebudayaan pada bulan Juli 2019, dan Nota Kesepahaman Kerjasama di bidang pendidikan pada bulan Januari 2020. Dan ia berharap bahwa kesepakatan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai kerangka hukum untuk mendorong terjadinya kerja sama yang berkelanjutan antara lembaga-lembaga pendidikan dan budaya antara kedua negara.
Dalam webinar singkat ini Duta Besar turut mengundang narasumber dari PEA, yaitu Syeika Abdulla bin Jasim AlMutairi, Kepala Departemen Kebudayaan Nasional dan Departemen Humas dan Media di Juma Al Majid Center for Culture and Heritage, yang sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh kedutaan dalam rangka mengenalkan budaya dan warisan di PEA.
Dalam webinar yang dilaksanakan kurang lebih 2 jam ini narasumber menjabarkan dengan jelas tentang sejarah berdirinya PEA dengan segala nilai-nilai moral dan budaya bangsa yang ditanamkan oleh para pendiri dari leluhur, yang masih dilestarikan di tengah pesatnya kemajuan negara mereka di bidang ekonomi dan teknologi.
Kemudian Sheika AlMutairi menjelaskan bahwa budaya yang diwariskan kepada mereka memiliki akar sejarah yang panjang yang tidak dapat dibatasi dengan bilangan umur negara PEA yang dianggap masih singkat, yaitu kurang lebih 50 tahun sejak berdirinya. Hal tersebut diperkuat dengan berbagai fakta sejarah yang diungkap di antaranya melalui karya sastra. Lebih lanjut narasumber menyampaikan bahwa upaya pelestarian budaya dan warisan bangsa PEA terus digalakkan pemerintah sejak awal berdirinya dengan didirikannya lembaga/pusat pelestarian budaya Emirat, perpustakaan, media pemberitaan, di samping upaya individu yang dilakukan tokoh-tokoh ternama PEA, yang di antaranya adalah Sheikh Zayed Al Nahyan, pendiri dan presiden pertama negara Emirat.
Kegiatan ini diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab dari para hadirin peserta webinar. Sebelum acara ditutup Rektor UAI kembali berkenan untuk menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada yang terhormat Duta Besar PEA dan narasumber atas kerja sama yang telah terjalin antara UAI dan Kedutaan Besar PEA di Jakarta. (fri/rls)










