Rabu, 28 Oktober 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Opini

Aksi Donasi Rp2 T dan (Adakah) Rasa Malu para Penyinyir

Admin oleh Admin
28 Juli 2021
in Opini
A A
0
Aksi Donasi Rp2 T dan (Adakah) Rasa Malu para Penyinyir
Share on FacebookShare on Twitter

PADA saat pemerintah dan masyarakat, khususnya penyintas covid berperang melawan covid-19, ada sekelompok orang yang terus mendompleng bencana kemanusiaan itu untuk menjatuhkan pemerintahan dan mengecilkan Presiden Jokowi yang disebut gagal mengatasi pandemi. Ada pula bocah telat dewasa yang menyimpulkan Indonesia sebagai failed nation. Padahal dulu bapaknya justru yang lebih sering melakukan aksi failed dan error tingkat dewa yang membuat dan menyuburkan kaum radikalis semakin tidak beradab dan anti-Pancasila. Mereka itulah yang selama ini bersorak-sorak gembira ketika jumlah kasus positif covid bertambah. Mengucapkan belasungkawa dan prihatin pun tidak saat jumlah warga masyarakat yang meninggal dunia karena covid bertambah. Padahal dulu orang-orang itu saat berkuasa sering mengucapkan prihatin meskipun untuk menangisi nasibnya sendiri. Mengamati kelakuan mereka, membuat tidak saja pemerintah terganggu dalam menangani covid, tetapi juga membuat masyarakat sebal bukan kepalang. Karena mereka sama sekali tidak punya empati dan peduli. Saya tak tahu apakah mereka tidak punya malu ketika di penjuru negeri banyak warga masyarakat yang berjibaku menyingsingkan lengan baju membantu pemerintah mengatasi pandemi covid, mereka justru tertawa dan nyinyir tiada akhir. Padahal di saat bersamaan warga masyarakat terkapar tak berdaya di halaman rumah sakit karena harus antre masuk ke UGD. Sampai-sampai tokoh sekaliber Christianto Wibisono meninggal di Rumah Sakit Sitanala Tangerang, sebuah rumah sakit yang selama ini dikenal sebagai rumah sakit khusus penderita kusta. Ia menjadi rumah sakit pilihan terakhir warga Tangerang jika sakit. Benar, rumah sakit itu sekarang memang sudah berganti wajah menjadi rumah sakit umum dan modern, namun kesan rumah sakit yang dulu distigmakan sebagai rumah sakit yang pasiennya harus diajuhi tetap melekat begitu kuat. Ya, di rumah sakit inilah Christianto Wibisono menghembuskan napas terakhir setelah tubuhnya dicabik-cabik covid. Tidak cuma Christianto, guru besar fikih, ulama perempuan Dr Huzaemah Tahido Yanggo juga meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Serang, Banten karena covid. Padahal perempuan berusia 77 tahun ini tinggal di Jakarta.

Bak oase di padang gurun, kita terkejut, ternyata ada sosok mulia– paling tidak ahli warisnya– yang membantu pemerintah untuk mengatasi penyebaran covid dengan memberikan donasi yang jumlahnya tidak tanggung-tanggung, Rp2 triliun! Sebagaimana diberitakan di banyak media arus utama dan media sosial beberapa hari lalu, Pemprov Sumatera Selatan (Sumsel) mendapat bantuan dana hibah sebesar Rp2 triliun untuk penanggulangan covid-19 dari pihak yang mengatasnamakan keluarga almarhum Akidi Tio. Banyak orang sampai saat ini bertanya-tanya siapa Akidi Tio? Laki-laki ini disebut-sebut berasal dari Aceh dan semasa hidupnya dikenal sebagai pengusaha yang bergerak di dunia kontraktor, kontainer, dan besi. Tapi, yang membuat kita tercengang adalah besar sumbangannya itu lho, Rp2 triliun! Orang awam seperti saya tidak pernah membayangkan, apalagi para penyinyir yang belakangan populer dengan sebutan covidiot itu yang cuma bisa memberikan ‘sumbangan’ di era covid ini berupa nyinyiran, kritikan, kebencian dan makian. Di mana rasa malu mereka? Dalam suasana nan penuh duka ini, saya jadi ingat Iyyas Subiakto, teman saya yang beberapa hari lalu di Facebook menulis dan mempertanyakan ke mana orang-orang kaya kita? Dari awal pandemi, menurut Iyyas, salah satu yayasan kemanusiaan yang selalu kelihatan di depan adalah Buddha Tzu Chi, mereka selalu sigap di setiap ada bencana.  Sepertinya tidak satu pun setiap ada bencana alam mereka lewatkan untuk hadir. Ribuan rumah dibangun saat tsunami Aceh, NTB, dan Palu. Ratusan ribu APD dan masker dibagikan diawal pandemi tahun lalu. Kita tahu yayasan ini dibantu oleh ratusan pengusaha Tionghoa yang menyisihkan sebagian dananya. Saat ini, masih menurut Iyyas Subiakto, di saat virus menggila lagi-lagi mereka hadir nyata, belum lagi orang kaya yang ada seperti Sinar Mas, Sukanto Tanoto, dan lainnya yang tidak disiarkan media. Saat kita kekurangan oksigen, tiba-tiba bantuan dari Tiongkok sudah sampai di Tanjung Priok, begitu juga dari Sukanto Tanoto, dan Sinar Mas yang menyumbang 1.200 ton oksigen setiap bulan yang ekuivalen dengan 1 juta botol tabung oksigen.  Soal oksigen berikut tabungnya, saya punya pengalaman menarik. Sebagai anggota satgas covid di komunitas wilayah gereja, kami bahkan mendapatkan pinjaman tiga tabung oksigen (gratis) dari komunitas bernama Paguyuban Warga Klaten (PWK) di Jakarta. Kami tempo hari sempat kelimpungan ketika ada warga gereja kami yang terpapar covid dan saturasinya di bawah 70. Sekali lagi saya mempertanyakan di mana rasa malu para penyinyir dan orang-orang kaya yang mungkin menjadi bohir para mahasiswa covidiot yang tempo hari akan mendemo Presiden Jokowi? Di mana empati kalian kepada negeri sendiri yang tengah dirundung duka, sementara kalian dengan begitu mudahnya mengumpulkan donasi dan menyebarluaskan kotak amal ke mana-mana ketika ada dua negara berkonflik di Timur Tengah sana? Kalian ini sebenarnya siapa sih?

Oleh : antyo Koespradono, Mantan Wartawan, Pemerhati Sosial Politik 

Artikel Terkait

Memahami Makna Perubahan Skor TKA SMA/SMK 2026

Inflasi Nilai, Kenaikan Kelas Otomatis, dan Koreksi Deep Learning

Skor Baru TKA untuk Membaca Kemampuan Murid Lebih Baik

TerkaitBerita

Memahami Makna Perubahan Skor TKA SMA/SMK 2026
Opini

Memahami Makna Perubahan Skor TKA SMA/SMK 2026

oleh Editor : Anggoro
21 Oktober 2026
Inflasi Nilai, Kenaikan Kelas Otomatis, dan Koreksi Deep Learning
Opini

Inflasi Nilai, Kenaikan Kelas Otomatis, dan Koreksi Deep Learning

oleh Editor : Anggoro
18 Oktober 2026
Skor Baru TKA untuk Membaca Kemampuan Murid Lebih Baik
Opini

Skor Baru TKA untuk Membaca Kemampuan Murid Lebih Baik

oleh Editor : Anggoro
10 Oktober 2026
Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan
Opini

Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

oleh Editor : Anggoro
28 September 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Direkomendasikan

Ari Irham Kewalahan Jalani Adegan Kesurupan Berulang Kali di Hajatan Setan

Ari Irham Kewalahan Jalani Adegan Kesurupan Berulang Kali di Hajatan Setan

28 Oktober 2026
Tantangan Terberat Taskya Namya, Menjiwai Karakter Marni di Film Horor Rambut Sewu

Tantangan Terberat Taskya Namya, Menjiwai Karakter Marni di Film Horor Rambut Sewu

28 Oktober 2026
Penggerebekan Narkoba di Kampung Berlan Matraman, Tim Gabungan Amankan 8 Orang dan Sita Sabu hingga Ketamin

Penggerebekan Narkoba di Kampung Berlan Matraman, Tim Gabungan Amankan 8 Orang dan Sita Sabu hingga Ketamin

28 Oktober 2026
Pantograf Berpercikan Api di Stasiun Jakarta Kota, KAI Commuter Siapkan Rangkaian Pengganti

Pantograf Berpercikan Api di Stasiun Jakarta Kota, KAI Commuter Siapkan Rangkaian Pengganti

28 Oktober 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    5108 shares
    Share 2043 Tweet 1277
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    1110 shares
    Share 444 Tweet 278
  • Singapura Ancam Tutup Bisnis Tujuh Perusahaan Dalang Karhutla

    320 shares
    Share 128 Tweet 80
  • MU Hanya Dua Kali Menang, Nasib Michael Carrick di Ujung Tanduk

    313 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Bareskrim Polri Tangkap 4 Tersangka Pengelola Situs Judi Online Boxkia.com

    312 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya