Koranindopos.com – JAKARTA — Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Teguh, menduga terdapat pihak tertentu yang berupaya memecah solidaritas antara massa aksi dan komunitas ojek online (ojol) dalam rangkaian demonstrasi di Jakarta.
Teguh menduga ada oknum yang sengaja ditempatkan atau dibayar untuk memicu kericuhan di tengah aksi. Menurutnya, keberadaan kelompok tersebut berpotensi memancing benturan antara massa demonstrasi dengan kelompok masyarakat lainnya.
“Banyak orang-orang ini memang diplot atau disewa, disuruh memang untuk bikin kisruh,” kata Teguh kepada Kompas.com, Jumat (28/8/2026).
Teguh mengatakan potensi bentrokan dapat terjadi apabila terdapat kelompok yang menyusup ke tengah massa dan tidak memiliki kepentingan dengan agenda demonstrasi.
Ia menilai kelompok tersebut justru memanfaatkan situasi aksi untuk mengadu masyarakat dengan masyarakat lainnya.
“Memang ada, dan mereka tidak peduli bangsa ini kondisinya seperti apa. Yang penting saat ada demo, diadu sesama warga untuk bikin kisruh,” ujarnya.
Meski demikian, dugaan tersebut merupakan penilaian dari pihak AMPB dan tidak serta-merta membuktikan adanya pihak tertentu yang memang menyewa atau mengorganisasi provokator.
Untuk mencegah terjadinya gesekan, Teguh mengatakan AMPB berupaya mempertahankan hubungan baik dengan komunitas ojol dan berbagai elemen masyarakat lainnya.
Menurut dia, menjaga komitmen dan konsistensi menjadi salah satu langkah penting agar massa aksi tidak mudah terprovokasi. AMPB juga berupaya menghindari tindakan yang dapat memicu benturan antarmasyarakat.
“Kalau menjaga solidaritas itu yang paling penting kami di AMPB menjaga komitmen dan konsistensi. Yang kedua, kita menghindari benturan antarwarga masyarakat,” jelasnya.
Teguh menilai solidaritas antara massa aksi dan komunitas ojol perlu dipertahankan agar perbedaan kepentingan tidak berkembang menjadi konflik di lapangan.
Selain dugaan adanya kelompok penyusup, Teguh turut menyoroti pola pengamanan kepolisian selama demonstrasi berlangsung.
Ia menilai aparat keamanan sebenarnya telah memiliki pemetaan mengenai kelompok-kelompok yang berpotensi menimbulkan kericuhan. Hal itu, menurutnya, seharusnya dapat menjadi dasar untuk mencegah provokasi sejak awal.
Namun, Teguh mengaku mempertanyakan adanya dugaan pembiaran terhadap kelompok tertentu yang kemudian berpotensi dijadikan alasan untuk membubarkan massa.
“Polisi sebenarnya tahu peta-petanya, demo di Jakarta hampir tiap hari, orang-orangnya sudah dipetakan. Kenapa masih dibiarkan?” tegasnya.
Ia berpendapat, selama demonstrasi berjalan tertib, seharusnya tidak ada alasan untuk membubarkan massa secara paksa.
Teguh kemudian menggambarkan pergerakan aparat keamanan sebagai sesuatu yang sangat bergantung pada instruksi dari pihak yang memiliki kewenangan.
“Polisi itu pakai robot yang bisa diremot. Kalau disuruh jalan ke utara ya jalan ke utara, ke selatan ya selatan. Tergantung remotnya yang pegang siapa,” pungkasnya.
Sebelumnya, AMPB menggelar demonstrasi di depan Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, pada Kamis (27/8/2026).
Dalam rangkaian aksi tersebut, hubungan antara massa AMPB dan komunitas ojol sempat menjadi perhatian setelah muncul sejumlah pernyataan serta informasi yang beredar di tengah masyarakat.
AMPB kemudian memberikan klarifikasi dan menegaskan pentingnya menjaga solidaritas dengan komunitas ojol serta menghindari benturan antarkelompok.
Di tengah situasi demonstrasi yang dinamis, pihak AMPB mengingatkan seluruh massa untuk tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang dapat memanfaatkan kerumunan untuk menciptakan kericuhan.(dhil/kmps)










