Koranindopos.com – Jakarta — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan sebanyak 5,3 juta masker telah didistribusikan ke berbagai wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Distribusi masker dilakukan secara merata dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat di daerah yang terdampak buruknya kualitas udara akibat asap karhutla.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan sebagian masker saat ini telah berada di Dinas Kesehatan tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
“(Masker) itu ada yang sudah ada di Dinas Provinsi, sudah ada di Dinas Kesehatan Kabupaten, dan total-total kita punya 5,3 juta yang sudah terdistribusi secara merata sesuai dengan kebutuhan di tempat-tempat yang terdampak,” ujar Dante dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Dante mengungkapkan, dari total 5,3 juta masker yang telah disalurkan, stok yang masih tersedia di sejumlah provinsi mencapai sekitar 2,7 juta masker.
Pemerintah memastikan distribusi tambahan akan dilakukan apabila persediaan masker di daerah terdampak mulai menipis.
Kemenkes juga terus melakukan pemantauan terhadap ketersediaan dan pembagian masker kepada masyarakat. Pemantauan dilakukan secara berkala melalui Pusat Krisis Kemenkes.
“Jadi data real-time setiap hari dipantau oleh Pusat Krisis Kementerian Kesehatan. Pembagian masker sudah terus kita lakukan, pemeriksaan kesehatan kita lakukan, semua gratis, tidak ada masker yang harus dibeli,” kata Dante.
Menurutnya, pembagian masker akan tetap dilakukan selama proses penanganan dan pemadaman karhutla berlangsung.
Dante juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah, terutama mereka yang berada di wilayah dengan kualitas udara buruk.
“Karena perlindungan yang paling baik itu hanya dengan menggunakan masker dan menjaga supaya tidak keluar di daerah yang terdampak kualitas udaranya jelek,” ujarnya.
Selain memastikan ketersediaan masker, Kemenkes terus memantau kondisi kualitas udara di sejumlah daerah yang terdampak karhutla.
Dante menyebut beberapa wilayah masih berada dalam kategori kualitas udara yang berbahaya maupun sangat tidak sehat.
“Yang masih berbahaya statusnya itu ada di Pontianak, Kalimantan Barat,” tutur Dante.
Selain Kalimantan Barat, sejumlah wilayah di Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan juga masih menghadapi kualitas udara yang buruk.
Beberapa kabupaten di Kalimantan Barat bahkan masih masuk kategori sangat tidak sehat akibat paparan asap karhutla.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman kesehatan akibat karhutla masih perlu mendapat perhatian serius, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan konsentrasi asap tinggi.
Dante menjelaskan kondisi kualitas udara di Jambi menunjukkan perkembangan dibandingkan pemantauan pada pekan sebelumnya.
Jika sebelumnya Jambi masuk dalam kategori wilayah dengan kualitas udara berbahaya, kini kondisinya mulai membaik.
“Minggu lalu, hasil pemantauan evaluasi kita yang berbahaya di Kalimantan Barat dan Jambi. Tapi sekarang Jambi sudah menuju ke tidak berbahaya lagi, tapi tetap tidak sangat tidak sehat,” jelasnya.
Meski demikian, masyarakat di wilayah terdampak tetap diminta tidak lengah dan terus mengikuti perkembangan kualitas udara.
Pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk serta menggunakan masker sebagai perlindungan dari paparan asap.
Kemenkes memastikan pemantauan kesehatan masyarakat dan kualitas udara akan terus dilakukan seiring penanganan karhutla di berbagai wilayah Indonesia.(dhil/kmps)










