Koranindopos.com, JAKARTA – Meningkatnya tekanan biaya dana (cost of fund) dan persaingan likuiditas mendorong pelaku industri perbankan menyesuaikan strategi bisnis. Di tengah dinamika tersebut, Bank Jakarta memilih mengedepankan pertumbuhan yang sehat (selective growth) dengan fokus pada kualitas aset, efisiensi pendanaan, dan transformasi digital sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, mengatakan strategi ekspansi perseroan tidak lagi berorientasi pada pertumbuhan kredit semata, tetapi diarahkan untuk menjaga profitabilitas dan ketahanan bisnis di tengah perubahan lanskap industri keuangan.
“Kita tidak kejar-kejaran mencari pertumbuhan besar, tetapi yang kami prioritaskan adalah pertumbuhan yang sehat dan berkualitas,” ujar Agus.
Menurutnya, industri perbankan kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari tingginya suku bunga, ketidakpastian ekonomi global, hingga meningkatnya biaya penghimpunan dana.
Ia mengungkapkan bunga deposito dalam lelang dana antarbank sempat mencapai 11,5 persen, yang menjadi indikator meningkatnya tekanan terhadap biaya dana industri.
“Ini sudah menjadi peringatan bagi industri perbankan. Artinya, cost of fund akan meningkat cukup signifikan sehingga setiap bank harus memiliki strategi pendanaan yang lebih efisien,” katanya.
Menghadapi kondisi tersebut, Bank Jakarta menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga margin bisnis sekaligus mempertahankan kualitas portofolio pembiayaan.
Salah satu fokus utama perseroan adalah memperkuat struktur pendanaan melalui peningkatan dana murah (current account saving account/CASA) dan diversifikasi sumber pendanaan.
Sebagai bank yang mayoritas sahamnya dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Jakarta juga mengoptimalkan potensi dana dari ekosistem pemerintah daerah sebagai salah satu sumber pertumbuhan likuiditas yang lebih efisien.
Strategi tersebut dinilai penting untuk menjaga daya saing di tengah meningkatnya kompetisi penghimpunan dana di industri perbankan nasional.
Meski tekanan biaya dana meningkat, Agus menilai fundamental industri perbankan Indonesia masih berada pada level yang kuat.
Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap positif, rasio permodalan yang memadai, kondisi likuiditas yang relatif terjaga, serta tingkat kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang masih terkendali.
“Persoalannya sebenarnya bukan pada fundamental industri, tetapi pada perubahan medan persaingan yang kini jauh lebih dinamis,” ujarnya.
Menurut Agus, industri keuangan dalam beberapa tahun terakhir dihadapkan pada berbagai tantangan eksternal, mulai dari pandemi Covid-19, konflik geopolitik global, hingga perubahan kebijakan perdagangan internasional yang memengaruhi stabilitas pasar keuangan.
Selain memperkuat struktur pendanaan, Bank Jakarta juga mempercepat transformasi bisnis melalui digitalisasi layanan, penguatan manajemen risiko, serta pembentukan budaya kerja yang lebih adaptif.
Transformasi tersebut dilakukan sebagai respons terhadap perubahan perilaku nasabah yang kini semakin mengutamakan kemudahan akses, kecepatan layanan, keamanan transaksi, serta integrasi layanan digital.
“Nasabah saat ini tidak lagi hanya melihat produk yang dimiliki sebuah bank, tetapi bagaimana bank mampu menghadirkan layanan yang mudah, cepat, aman, dan didukung ekosistem digital yang lengkap,” kata Agus.
Ia menambahkan, transformasi digital menjadi salah satu faktor utama yang akan menentukan daya saing perbankan di masa depan, terutama dalam menghadapi perubahan preferensi konsumen dan meningkatnya kompetisi dari layanan keuangan berbasis teknologi.
Dengan mengedepankan strategi pertumbuhan yang lebih selektif, Bank Jakarta optimistis mampu menjaga kualitas aset, mempertahankan profitabilitas, sekaligus meningkatkan daya saing di tengah dinamika industri yang terus berubah.
Perseroan menilai keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi operasional, digitalisasi, serta pengelolaan risiko akan menjadi fondasi utama dalam menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah tekanan pasar keuangan yang diperkirakan masih berlanjut hingga beberapa tahun mendatang. (ana)










