Koranindopos.com, Samarinda – Borneo International Fashion Festival (BIFF) 2026 menjadikan Samarinda sebagai titik temu bagi desainer, artisan, pelaku UMKM, komunitas kreatif, hingga industri mode dari sejumlah daerah. Festival yang digelar pada 3–4 Oktober 2026 itu membawa misi memperluas akses karya lokal ke pasar yang lebih luas, termasuk jejaring internasional.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari visi Yulia Hadi, Founder sekaligus Chairwoman BIFF 2026. Menurut Yulia, banyak pelaku kreatif di Borneo memiliki produk dan cerita yang kuat, tetapi masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pasar dan peluang kolaborasi.
“They have the talent. They have the story. What they need is access and opportunity. Dan dari semangat itulah Borneo International Fashion Festival lahir,” lanjutnya.
Yulia mengatakan, gagasan BIFF berkembang dari pengalamannya membangun Pandawi Wastra Borneo. Melalui brand tersebut, ia mulai membawa karya dan wastra Kalimantan untuk diperkenalkan di luar Indonesia, termasuk ke pasar Australia.
“Hari ini menjadi momen yang sangat berarti bagi saya, karena BIFF berawal dari sebuah perjalanan sederhana dan satu keyakinan: What we have in Borneo deserves to be seen by the world,” ujar Yulia Hadi.
Semangat tersebut kemudian diterapkan BIFF melalui sejumlah program yang tidak berhenti pada pertunjukan busana. Salah satunya adalah Business Matching yang mempertemukan pelaku UMKM dari Penajam dan Samarinda dengan calon buyer serta mitra potensial.
Program itu diarahkan untuk membantu pelaku usaha memahami peluang pengembangan produk sekaligus mempersiapkan karya lokal agar dapat menjangkau konsumen dan pasar yang lebih luas.
Bagi Yulia, upaya memperkenalkan produk Borneo ke dunia internasional tetap harus berjalan bersama identitas budaya daerah.
“Going global doesn’t mean leaving our identity behind. Our identity is our strength.”
Pesan tersebut juga terlihat dari materi yang dibawa ke panggung BIFF 2026. Dalam rangkaian yang bertepatan dengan momentum Hari Batik Nasional, festival menghadirkan batik dan berbagai wastra Nusantara sebagai bagian dari karya mode kontemporer.
Desainer dan pelaku kreatif yang terlibat datang dari sejumlah wilayah Kalimantan Timur, seperti Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara, Kutai Timur dan Bontang. Karya dari Bali, Jakarta hingga Melbourne, Australia juga ikut mengisi rangkaian festival.
Pada pembukaan 3 Oktober, sejumlah nama yang tampil antara lain Batik Melayu Kutai, Karai, Ida Syachruni, NURM Collection, Ekraf Kutai Kartanegara x Made by GIA, Dekranasda Kalimantan Timur, Pandawi Wastra Borneo, Laxmee x Halita Moda, Pihar Design Collection, DS Entertainment, Yenne Hakim, Nusantara by Arien x Black Ink, serta Zahira by Koyko.
Rangkaian BIFF kemudian berlanjut pada 4 Oktober dengan dua parade. Parade pertama melibatkan institusi pendidikan dan pelaku kreatif, di antaranya SMK Negeri 14 Samarinda, SMK Negeri 1 Sangatta Utara, Ishana Bali, CC Modelling, SMK Negeri 4 Balikpapan dan SMK Negeri 3 Samarinda.
Sementara parade malam menghadirkan Javabor, Kekean Wastra Gallery, The Raftykha, Batik Beras Basah, Rizal Fashion Style, Tahura Paser Nature, Dekranasda Kutai Timur, AEMTOBE dan Pandawi Wastra Borneo.
Tidak berhenti pada koleksi busana dan wastra, BIFF juga menghadirkan Carnival Show dari Jember, Jawa Timur. Kehadiran pertunjukan tersebut menambah warna pada rangkaian festival yang mempertemukan mode dengan budaya.
Pembukaan BIFF 2026 turut dihadiri Wakil Ketua Dekranasda Provinsi Kalimantan Timur Hj. Wahyu Hernaningsih, S.E., Staf Ahli Bidang II Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Provinsi Kalimantan Timur Ir. Stifarisyah Yana, M.Si., jajaran Forkopimda serta Ketua Dekranasda kabupaten/kota di Kalimantan Timur.
Sejumlah tokoh industri mode dan budaya juga hadir, antara lain Musa Widiatmodjo, Ayu Dyah Pasha dan Ami Wirabudi. Festival turut mempertemukan komunitas kreatif, media, fashion enthusiast dan pemangku kepentingan lainnya.
Pada penutupan rangkaian acara, Lucia Hou dari International Delegation of Melbourne, Australia, turut hadir. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan dan membuka peluang kerja sama antara pelaku industri kreatif Borneo dengan jaringan di Australia.
Ke depan, BIFF diarahkan untuk berkembang sebagai platform yang menghubungkan budaya, komunitas, kreativitas dan bisnis. Yulia menilai tujuan tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, sektor swasta, komunitas, media hingga pelaku industri kreatif.
“Today, we are not only opening a fashion festival. We are opening a bridge from local to global, from heritage to the future.”
Melalui BIFF 2026, karya dari Borneo ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem mode yang memiliki peluang untuk berkembang di tingkat nasional maupun internasional. Festival ini juga menjadi ruang bagi desainer, artisan, pengrajin dan UMKM untuk memperkenalkan produk sekaligus mempertahankan nilai budaya yang melekat di dalamnya.
“Welcome to Borneo International Fashion Festival 2026. From Borneo, For the World.” (BRG/Kul)










