koranindopos.com – Jakarta. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat kembali merilis data terbaru terkait bencana alam yang terjadi di Kabupaten Sukabumi selama periode 1-6 Desember 2024. Dalam rentang waktu tersebut, tercatat sebanyak 291 kejadian bencana alam melanda 38 kecamatan di wilayah tersebut, menyebabkan 5 korban jiwa dan 4 orang dilaporkan hilang.
Hadi Rahmat, Pranata Humas Ahli BPBD Jawa Barat, menyampaikan bahwa jenis bencana yang mendominasi adalah tanah longsor sebanyak 131 kejadian, disusul banjir (72 kejadian), pergerakan tanah (64 kejadian), dan angin kencang (24 kejadian).
“Tanah longsor menjadi bencana yang paling sering terjadi mengingat kondisi geografis Sukabumi yang didominasi oleh daerah pegunungan dan perbukitan. Selain itu, curah hujan yang tinggi turut memperparah situasi,” ujar Hadi dalam keterangan tertulis pada Jumat (6/12/2024).
Sebanyak 38 kecamatan terdampak bencana, termasuk:
- Wilayah perbukitan seperti Nyalindung, Cikidang, dan Gegerbitung yang rentan tanah longsor.
- Daerah aliran sungai seperti Cicurug, Bantargadung, dan Pelabuhan Ratu yang dilanda banjir.
- Wilayah lainnya seperti Cikembar, Jampang Kulon, dan Cisaat yang mengalami pergerakan tanah dan angin kencang.
Selain korban jiwa dan orang hilang, bencana tersebut mengakibatkan puluhan rumah rusak berat dan ringan, serta memaksa ratusan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
“Proses evakuasi masih terus berlangsung, terutama untuk mencari 4 korban hilang di daerah yang sulit dijangkau akibat akses jalan yang tertutup longsor,” tambah Hadi.
BPBD Jawa Barat bersama pemerintah daerah dan relawan terus mengoordinasikan upaya penanganan, mulai dari evakuasi korban, distribusi bantuan logistik, hingga mitigasi lanjutan untuk mencegah bencana susulan. Pihak berwenang juga mengimbau masyarakat yang tinggal di zona rawan bencana untuk tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari BPBD.
Curah hujan yang tinggi diperkirakan masih akan berlangsung hingga pertengahan Desember. Oleh karena itu, BPBD mengingatkan agar warga meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya di daerah rawan longsor dan banjir.
Bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya langkah preventif dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik untuk meminimalisir dampak bencana di masa depan.(dhil)










