Koranindopos.com, Jakarta — Buku “Bicara Enak” karya Ronni Waluya lahir dari percakapan panjang yang terbangun antara dirinya dan publik. Media sosial, khususnya TikTok, menjadi ruang yang tak hanya menghidupkan kembali kebiasaan menulis Ronni, tetapi juga membentuk komunitas yang akhirnya ikut memengaruhi lahirnya buku tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, Ronni aktif melakukan siaran langsung di TikTok bersama keluarganya dari studio kecil di rumah yang ia sebut seperti “TV sendiri”. Dari aktivitas itulah terbentuk komunitas penggemar bernama Ronners.
Interaksi yang intens, spontan, dan tanpa jarak itulah menjadi pemicu utama Ronni kembali serius menyelesaikan naskah buku yang sempat tertunda.
“Sampai pada titik saya ketemu Ronners, komunitas yang terbentuk gara-gara saya live TikTok. Gara-gara TikTok saya rajin lagi nulis buku,” ujarnya.

Padahal, proses penulisan buku ini sudah dimulai jauh sebelum itu. Dorongan awal datang dari sang istri, Sarah, yang menilai Ronni sudah memiliki cukup pengalaman untuk dibagikan dalam bentuk tulisan.
“Awalnya Sarah, istriku, yang bilang kayaknya saya sudah pantas nulis buku, sampai dia ngasih buku jurnal,” kata Ronni sambil tertawa.
Ia sempat membangun kebiasaan menulis setiap pagi, namun rutinitas tersebut tak bertahan lama sebelum akhirnya terhenti.
Baru dalam tiga tahun terakhir Ronni kembali fokus, menuntaskan buku yang secara keseluruhan membutuhkan waktu lima tahun untuk rampung. Buku ini sekaligus menjadi penanda 30 tahun kiprah Ronni di ruang publik, bukan hanya sebagai penyanyi dan mantan vokalis Kahitna, tetapi juga sebagai presenter dan pelatih komunikasi yang terbiasa berhadapan langsung dengan beragam karakter manusia.
Alih-alih menyusun buku dengan pendekatan teoritis, Ronni memilih jalur pengalaman. “Di buku ini saya lebih banyak ceritakan 30 tahun sering berinteraksi dengan penonton, pemirsa, dan peserta. Jadi buku ini buku interaksi selama 30 tahun ini,” tuturnya.
Buku tersebut berangkat dari situasi nyata: bagaimana sebuah percakapan bisa membangun suasana, menyelesaikan masalah, atau justru memperumit keadaan. Namun semuanya ditulis Ronni dengan bahasa yang sederhana dan mengalir.
“Saya mencoba nulis buku ini dengan bahasa yang ringan, yang gampang dibaca, ngalir aja,” katanya.
Menurut Ronni, tulisan-tulisan dalam buku itu dikumpulkan dari hampir seluruh pengalaman hidupnya, yang ia susun kembali berdasarkan ingatan.
Menghidupkan kembali memori itulah yang menjadi tantangan terbesarnya.
“Tulisan ini benar-benar sharing pengalaman saya. Saya ingat-ingat lagi, dan itu adalah kendala kenapa butuh lima tahun lalu,” ujarnya.
Ia menyamakan proses menulis dengan proses bermusik yang menuntut fokus tinggi. “Nulis itu butuh waktu yang fokus, persis seperti kita ngapalin lirik lagu,” kata Ronni.
Saat ini, buku “Bicara Enak” masih dipasarkan melalui direct selling dan akan segera tersedia di marketplace. Ronni juga mengisyaratkan adanya rencana pengembangan tema di masa depan.
“Masih ada turunan buku tentang public relation, bagaimana negosiasi, tapi kata istri saya nanti dulu. Akan lahir buku-buku selanjutnya,” ujarnya. (Brg/Kul)










