Koranindopos.com, Jakarta – Perselisihan yang melibatkan EV dan dokter estetika asal Korea Selatan, Dr. Song Hyung Min, akhirnya menemukan jalan keluar. Setelah sempat menjadi perbincangan publik akibat kekecewaan terhadap hasil perawatan kecantikan, kedua pihak sepakat mengakhiri konflik melalui perdamaian. Kesepakatan ini menandai berakhirnya polemik yang sebelumnya berkembang cukup panjang.
Momen penyelesaian tersebut berlangsung dalam sebuah pertemuan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, pada Selasa (16/12). EV hadir bersama pengacara, Deolipa Yumara, sementara Dr. Song diwakili oleh Antonius Edwin selaku pengacara. Pertemuan ini menjadi titik krusial untuk menyatukan pandangan dan memastikan tidak ada lagi persoalan yang tersisa di kemudian hari.
Konflik yang bermula dari ketidakpuasan EV terhadap layanan estetika itu sempat bergulir menjadi perdebatan terbuka. Situasi kian memanas ketika sejumlah pernyataan keras muncul dan menyebar luas di media sosial. Namun, seiring berjalannya waktu, kedua belah pihak menilai bahwa mempertahankan konflik justru tidak membawa manfaat yang sepadan.
EV sendiri mengakui bahwa memilih berdamai merupakan keputusan yang lebih menenangkan. Ia menyadari bahwa memperpanjang perseteruan hanya akan menyita pikiran serta energi, tanpa memberikan penyelesaian yang konstruktif. Dengan sikap yang lebih terbuka, EV pun memilih untuk menutup persoalan tersebut secara baik-baik.

“Kalau memang masalah sudah selesai damai kan lebih baik. Kita kalau diamen lebih enak,” ucapnya.
Di sisi lain, Antonius Edwin menjelaskan bahwa kesepakatan damai ini dicapai melalui proses komunikasi yang tidak singkat. Menurutnya, kedua pihak harus duduk bersama dan saling mendengarkan agar dapat menemukan solusi yang disepakati. Hasil dari pertemuan itu adalah komitmen bersama untuk mengakhiri konflik tanpa melibatkan proses hukum lanjutan.
“Tujuan pertemuan kita hari ini untuk tujuan baik. Kita sepakat untuk cara kekeluargaan. Jadi ketika ini sudah dinyatakan selesai, kita sepakat untuk selesai, maka tidak akan ada lagi permasalahan atau tuntutan di kemudian hari,” jelasnya.
Salah satu isu sensitif yang sempat mencuat adalah pernyataan bernada tudingan terhadap Dr. Song. Deolipa Yumara, menilai bahwa hal tersebut terjadi akibat kurangnya komunikasi dan belum adanya kedekatan antara kedua pihak pada awal permasalahan.
“Itu karena belum kenal. Kita kalau belum kenal kadang-kadang satu orang pun kita bilang ‘eh dasar abal-abal lu’ gitu. Tapi kalau sudah kenal kan enggak bisa kita bilang begitu,” ujar Deolipa.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penjelasan bahwa kesalahpahaman menjadi faktor utama yang memicu konflik. Dengan adanya dialog terbuka, masing-masing pihak akhirnya dapat memahami posisi satu sama lain dan meredam emosi yang sebelumnya memuncak.
Terkait isi kesepakatan damai, baik EV maupun pihak Dr. Song sepakat untuk tidak mengungkapkannya ke publik. Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap privasi dan untuk mencegah munculnya spekulasi baru yang berpotensi memicu polemik lanjutan.
Kesepakatan perdamaian ini membuat perseteruan yang sempat menyita perhatian publik resmi berakhir. Kedua belah pihak berharap kesepakatan tersebut menjadi penutup yang baik, sekaligus pengingat bahwa komunikasi dan itikad baik tetap menjadi kunci utama dalam menyelesaikan perbedaan. (Ris/Hend)










