Koranindopos.com – Jakarta – Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Kenaikan terjadi setelah muncul kabar Amerika Serikat (AS) akan mengirim kelompok tempur kapal induk ketiga ke kawasan Timur Tengah.
Mengutip CNBC, harga minyak Brent naik 4,4 persen dan ditutup pada level US$102,31 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,7 persen menjadi US$92,87 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah.
Menurut pejabat AS yang dikutip Wall Street Journal, kapal-kapal Korps Marinir beserta sekitar 10.000 pasukan tambahan akan dikerahkan ke kawasan Timur Tengah.
Pasukan tambahan tersebut diperkirakan tiba di kawasan itu pada akhir November.
Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa USS Theodore Roosevelt meninggalkan San Diego pada Minggu untuk menjalankan penugasan yang telah dijadwalkan.
Saat ini, AS juga telah menempatkan USS George H.W. Bush dan USS George Washington di kawasan Timur Tengah.
Pergerakan aset militer AS tersebut menjadi perhatian pasar karena berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik dan memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi.
Kenaikan harga minyak tetap terjadi meskipun aliran minyak mentah dari Timur Tengah telah kembali ke level sebelum perang. Namun, pemulihan pasokan tersebut dinilai masih rentan terhadap gangguan baru.
Setidaknya tiga kapal tanker dilaporkan mengalami serangan pada pekan ini ketika melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
Di sisi lain, pasokan bahan bakar dari kawasan Timur Tengah masih terbatas. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap pasar energi global.
Gangguan pasokan juga terjadi setelah serangan Ukraina terhadap sejumlah kilang minyak Rusia yang kemudian diikuti pembatasan ekspor solar.
Iran dan kelompok Houthi yang menjadi sekutunya juga dilaporkan menyerang sejumlah fasilitas kilang di Timur Tengah.
Tekanan terhadap pasokan bahan bakar turut tercermin dari harga solar di Amerika Serikat. Harga solar di AS sempat mencapai rekor tertinggi pada bulan sebelumnya.
Hingga Kamis, harga rata-rata solar masih berada pada level tinggi, yakni sekitar US$6,40 per galon.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga menyatakan sedang mempertimbangkan kemungkinan pembatasan ekspor solar dari AS.
Sementara itu, sejumlah kilang minyak di China dilaporkan membatalkan rencana ekspor bensin dan bahan bakar jet untuk Oktober.
Menurut sumber anonim yang dikutip Reuters, langkah tersebut dapat menjadi indikasi bahwa China mulai memperketat pasokan bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
CEO Rapidan Energy sekaligus mantan perwira CIA, Scott Modell, mengatakan peningkatan ketegangan antara AS dan Iran berpotensi memengaruhi perkembangan situasi di kawasan.
“Saya pikir presiden akan meningkatkan eskalasi setelah pemilihan paruh waktu; kita terus mendengar bahwa Iran akan meningkatkan eskalasi menjelang pemilihan paruh waktu,” kata Modell, dikutip CNBC, Jumat (2/10/2026).
Perkembangan tersebut membuat pasar minyak tetap mencermati kondisi keamanan di Timur Tengah, khususnya potensi gangguan terhadap jalur pelayaran dan distribusi energi global.
Dengan posisi Timur Tengah sebagai salah satu pusat produksi dan jalur transportasi minyak dunia, setiap gangguan terhadap pasokan maupun aktivitas pelayaran dapat menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan harga minyak mentah.(dhil/dtk)










