Koranindopos.com – JAKARTA — Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (21/9/2026). Kenaikan terjadi setelah kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu.
Serangan tersebut meningkatkan ketegangan di Timur Tengah, terutama di tengah kebuntuan hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi ini kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan minyak dari kawasan tersebut.
Mengutip Reuters, Senin (21/9/2026), harga minyak mentah Brent naik 81 sen atau 0,78 persen menjadi US$104,68 per barel pada pukul 22.02 GMT.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 76 sen atau 0,76 persen menjadi US$101,06 per barel.
Pemerintah Arab Saudi mengonfirmasi bahwa kelompok Houthi mencoba menyerang ibu kota Riyadh menggunakan rudal balistik.
Serangan tersebut menjadi upaya pertama Houthi menargetkan Riyadh sejak eskalasi perang Iran.
Arab Saudi menyatakan rudal yang ditembakkan berhasil dicegat. Meski demikian, sejumlah warga Riyadh sempat mendengar suara ledakan dan melihat kepulan asap di sekitar kawasan bandara.
Tidak terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan akibat serangan tersebut.
Selain Riyadh, Houthi juga disebut mencoba menyerang infrastruktur sipil di kota pelabuhan Yanbu yang berada di kawasan Laut Merah.
Yanbu menjadi lokasi penting bagi infrastruktur energi Arab Saudi karena merupakan tempat berakhirnya salah satu jaringan pipa utama negara tersebut.
Serangan lainnya dilaporkan menyasar wilayah Taif, Baysh, dan Farasan. Pemerintah Arab Saudi menyatakan seluruh serangan tersebut berhasil digagalkan.
Sebelumnya, Houthi mengklaim telah menargetkan sejumlah lokasi sensitif di Riyadh serta fasilitas raksasa minyak Saudi Aramco di Yanbu.
Kelompok tersebut bahkan mengklaim serangan ke fasilitas Aramco menyebabkan kebakaran besar. Namun, Houthi tidak memberikan bukti atas klaim tersebut.
Sementara itu, Aramco belum memberikan tanggapan mengenai klaim serangan dan kebakaran tersebut.
Kenaikan harga minyak terjadi karena pasar kembali memperhitungkan risiko geopolitik di Timur Tengah.
Serangan terhadap Riyadh dan potensi gangguan terhadap infrastruktur energi dapat meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi minyak dari kawasan tersebut.
Arab Saudi merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia. Karena itu, setiap eskalasi yang berpotensi mengganggu fasilitas energi maupun jalur distribusi dapat menjadi perhatian bagi pelaku pasar minyak global.
Di sisi lain, ketegangan tersebut berlangsung ketika hubungan AS dan Iran masih berada dalam situasi buntu. Perkembangan konflik dan potensi perluasan serangan menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan pasar.
Dengan Brent yang kembali menembus level US$104 per barel dan WTI berada di atas US$101 per barel, perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan pergerakan harga minyak dunia dalam perdagangan berikutnya.(dhil/dtk)










