Meraih Rekor MURI Binloop Ultra Marathon 120 pada 2024 belum membuat Veby Senopati Silam puas. Kini, dia punya mindset baru. Veby berharap kiprahnya di marathon juga bermanfaat bagi orang lain. Salah satu misinya adalah mengikuti Sydney Marathon 2025. Hasilnya akan dia donasikan bagi Yayasan Ronald McDonald House Charities (RMHC).
LAPORAN: MEMOARTO–Koranindopos.com
BERLARI dan finish di Sydney Marathon 2025 adalah misi Veby selanjutnya. Event yang akan diselenggarakan pada 31 Agustus mendatang itu menjadi peluangnya untuk menggalang donasi. ”Sydney Marathon adalah salah satu world marathon major. Dia sudah six start ditambah lagi satu, jadi dia seven start. Kebetulan aku sudah start yang pertama di Tokyo. Kalau aku bisa finish di Sydney, start ku sudah dua. Cuma aku pikir harus ada tujuan. Ngapain ya di Sydney. Makanya aku ikut program charity,” ungkap Veby.
Dia berkolaborasi dengan rumah singgah Yayasan Ronald McDonald House Charities (RMHC). Itu adalah lembaga nirlaba yang berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan anak-anak serta keluarga yang sedang menjalani perawatan medis. ”Saat ini aku berpikir bisa bermanfaat bagi banyak orang,” ujarnya, antusias.
Semua itu dia biayai sendiri. Pendapatan dari perusahaan pelayaran swasta tempat dia bekerja saat ini cukup untuk menjadi modal mengikuti berbagai event lari internasional. Dia berkiprah di bidang tersebut selama 15 tahun. Veby muda adalah sosok yang multitalenta. ”Hobiku di bidang seni seperti musik, puisi, dan berorganisasi. Bahkan, aku pernah mencoba berbagai audisi pencarian talent berbakat seperti Indonesian Idol dan X Factor Indonesia. Tetapi gagal. Dari situ aku tahu dan banyak belajar,” ujarnya, tersenyum.
Rupanya takdir berkata lain. Tidak satu pun dari bakat seninya dapat terealisasi. Veby justru mendapatkan peluang menjadi seorang pelaut melalui seleksi taruna pelayaran. Padahal, kata Veby, dia punya pengalaman mabuk laut. Itu terjadi saat dia mengikuti Jambore Nasional perwakilan dari Kalimantan. Dia berangkat naik kapal laut dari Banjarmasin ke Semarang. ”Saat itu, teman lihat-lihat kapal, aku malah tidur karena sudah gak kuat. Ya karena mabuk laut,” ungkapnya, tersenyum lepas.
Setelah diterima dan bekerja sebagai pelaut, sambung Veby, kapal adalah rumah kedua baginya. Dia bisa menghabiskan waktu untuk berlayar berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Pengalaman pahit, manis, asam, dan asin telah dia telan. Sampai saat ini dia telah mengantongi ijazah tertinggi pelaut, yakni Master Mariner (M.Mar). ”Banyak pengalaman tak mengenakkan. Misalnya harus melintasi zona rawan piracy (perompakan, Red) seperti di Somalia. Saya berlayar terjauh yakni ke Saudi Arabia. Berangkat dari Cilacap ke Arab sekitar 15 hari. Back to Back artinya sebulan,” beber Veby. (*)











Terima kasih koranindopos atas apresiasi nya.. Sukses selalu.. Amin