Kamis, 10 September 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Opini

Ketika Demokrasi di Korupsi

Editor : Hana oleh Editor : Hana
23 April 2022
in Opini
A A
0
Ketika Demokrasi di Korupsi
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dr. Noviardi Ferzi

koranindopos.com – Psikologi sosial masyarakat untuk kritis berhadapan realitas memalukan hari ini. Konstruknya, ketika nalar publik terus mengalami kemunduran. Masyarakat makin takut untuk bersuara, baik karena hilangnya keberanian atau memang karena tidak peduli disebabkan daya kritis yang kian menurun.

Padahal nalar mengendalikan perilaku masyarakat. Selama ini para ahli bersepakat berbagai perilaku dan siasat perubahan pada dasarnya dikendalikan oleh nalar yang mereka miliki. Ketika nalar telah ditakuti, sesungguhnya demokrasi telah mati.

Dalam lintasan sejarah orde baru bisa berkuasa sangat lama karena sukses memunculkan ketakutan di kalangan kelas menengah ke atas. Kini, ketakutan yang sama telah mengerogoti masyarakat, takut untuk bersuara.

Artikel Terkait

TEFA Perlu Kafah, Jangan Mualaf terhadap Deep Learning

Transformasi Jaminan Sosial menuju Pemberdayaan dan Kemandirian

Membebaskan sektor Riil dari Tekanan Merawat Independensi Bank Central

Masyarakat takut untuk menyampaikan pemikiran, meski pemikiran yang paling tidak kritis sekalipun, jangankan tindakan memusuhi penguasa, yang bertentangan dengan kepentingan penguasa masyarakat takut. Rasa takut ini yang menjaga penguasa survive menjalani agenda ekonomi, politik dan semua aspeknya, tanpa merasa terganggu.

Hari ini masyarakat cenderung mengambil jalan tengah, bersikap abu – abu bahkan diam sama sekali untuk menanggapi hal – hal yang membutuhkan keberpihakan manusia.

Meski logika tentang Idealisme sesungguhnya telah lama bergeser. Idealisme yang diuji ketika aktivis masuk ke lingkaran kekuasaan baik di eksekutif maupun legislatif. Faktanya tidak sedikit aktivis yang terkikis idealismenya bahkan hilang idealismenya ketika masuk ke lingkaran kekuasaan. Padahal publik berharap pada mereka untuk bersuara.

Padahal jika dikontekstualisasikan dengan realitas empirik politik di Indonesia maka betapa tidak sedikit aktivis yang berguguran dalam memegang teguh idealismenya

Jika diamati, pudarnya nalar tidak dalam ranah pemikiran, tapi lebih pada psikologi masyarakat untuk nyaman, demi rasa aman ini mereka memilih untuk tidak bersuara apalagi bergerak secara kolektif.

Kemunduran ini juga terjadi di lembaga perwakilan sekelas DPR RI, Pengadilan, organisasi mahasiswa hingga organ jalanan yang semestinya independen sekalipun. Maka, tak heran hari ini orang menilai secara umum civil society mengalami kemunduran, mengalami pelemahan moral publik.

Penurunan bobot atau Regresi demokrasi ini dalam konteks Indonesia pasca pemilu 2019 ditunjukan oleh setidaknya dua hal. Pertama,  revisi UU KPK yang dilakukan secara kilat dinilai melemahkan institusi KPK dan mencederai narasi anti korupsi yang menjadi semangat reformasi.

Pemberlakukan secara otomatis UU KPK (UU No. 19 Tahun 2019) dianggap menguntungkan elit politik tanpa melalui proses yang mengakomodasi aspirasi publik. Dengan demikian gerakan mahasiswa mendesak Presiden untuk mengeluarkan Perppu pembatalan UU KPK sebagai ujian keberpihakan presiden terhadap narasi antikorupsi tersebut.

Kedua, regresi demokrasi berkaitan dengan porsi oposisi dalam pemerintahan. Dalam konteks Indonesia, hasil pemilu 2019 menunjukan minimnya porsi oposisi yang kuat di dalam parlemen berimplikasi pada minimnya pengawasan terhadap pemerintah, akibatnya tidak ada check and balances di dalam proses demokrasi.

Partai oposisi yang tersisa yakni Demokrat meraih 10.876.507 (7,77 persen) suara dan memiliki 54 kursi di DPR. Kemudian PKS meraih 11.493.663 (8,21 persen) suara dan memiliki 50 kursi di DPR.

Total kursi yang dimiliki partai oposisi ialah 104 atau hanya 18,1 persen dari keseluruhan kursi di parlemen.

Presiden Jokowi mestinya belajar dari kegagalan Orde Baru yang menggaungkan pembangunan dengan menciptakan stabilitas politik semu melalui pendekatan amputasi oposisi.

Dalam sistem politik yang lebih terbuka seperti sekarang, pendekatan ini hanya akan memancing perlawanan yang lebih besar dari masyarakat. Pemerintahan dan parlemen yang dihasilkan melalui proses demokratis seharusnya juga merapkan kebijakan dan cara-cara yang demokratis pula.

Walhasil isu apapun digelindingkan saat ini sulit membangkitkan kesadaran dari semua pihak. Padahal Bung Hatta mengingatkan, tugas kaum terdidik untuk terus menerus membimbing jalannya masyarakat. Baik ketika dalam struktur pemerintah ataupun tidak. Kesadaran yang tak lagi dimiliki elit partai.

Persoalan kemunduran nalar adalah kemunduran bersama dan merupakan gejala yang kurang sehat. Meski banyak orang merasa tidak baik-baik saja, tetapi tidak berani bicara. Mereka diam dengan kesimpulan bisu dan kepentingan.

Kemunduran nalar ini, bukan berarti kemampuan berpikir argumentatif yang mundur, tetapi keberanian untuk bersikap. Meskipun alasannya kuat, misalnya keselamatan keluarga. Tapi cara berpikir itu untuk tidak berani bagian dari kemunduran.

Melawan kondisi ini, satu hal yang bisa dilakukan adalah bergerilya, bergerak, jika ada rasa ketakutan itu berbisiklah, dengan narasi dan ide. Akhirnya, kita sadar bahwa hari bahwa, ” Common enemy kita hari ini bukanlah rezim otoriter, tetapi demokrasi itu sendiri. Demokrasi telah dikorupsi oleh elit politik yang berhasil mentransformasikan diri melalui pintu demokrasi. ”

(Penulis meruapakan peneliti)

Topik: DemokrasiKorupsiPartai Politik

TerkaitBerita

“Echo Chamber”, Pengganggu Pembelajaran Mendalam?
Opini

TEFA Perlu Kafah, Jangan Mualaf terhadap Deep Learning

oleh Editor : Anggoro
23 Agustus 2026
Transformasi Jaminan Sosial menuju Pemberdayaan dan Kemandirian
Opini

Transformasi Jaminan Sosial menuju Pemberdayaan dan Kemandirian

oleh Editor : Anggoro
15 Agustus 2026
Bamsoet
Opini

Membebaskan sektor Riil dari Tekanan Merawat Independensi Bank Central

oleh Editor : Hairul
3 Agustus 2026
Perlukah TKA untuk Pembelajaran Mendalam?
Opini

Project Based Learning Belum dan Bukan Pembelajaran Mendalam

oleh Editor : Anggoro
2 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Direkomendasikan

Harga Minyak Dunia Tembus US$ 101 per Barel, Konflik AS-Iran Picu Kekhawatiran Selat Hormuz

Harga Minyak Dunia Tembus US$ 101 per Barel, Konflik AS-Iran Picu Kekhawatiran Selat Hormuz

10 September 2026
Wow…..Opie Kumis Ternyata Telah Menikah Sebanyak 31 Kali 

Wow…..Opie Kumis Ternyata Telah Menikah Sebanyak 31 Kali 

10 September 2026
Beasiswa Cendekia Baznas 2026 Dibuka, Mahasiswa D4/S1 Bisa Dapat Bantuan hingga Rp7 Juta per Semester

Beasiswa Cendekia Baznas 2026 Dibuka, Mahasiswa D4/S1 Bisa Dapat Bantuan hingga Rp7 Juta per Semester

10 September 2026
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp15.000, Jadi Rp2,625 Juta per Gram

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp15.000, Jadi Rp2,625 Juta per Gram

10 September 2026

Terpopuler

  • Produk Dalam Negri

    Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    853 shares
    Share 341 Tweet 213
  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    4460 shares
    Share 1784 Tweet 1115
  • 3 Motor Listrik Bertenaga Buas yang Diklaim Bisa Menandingi Motor 250cc

    323 shares
    Share 129 Tweet 81
  • Suami Leni Mariska Angkat Bicarakan Tuduhan Podcast: Dari Klaim Nafkah Kurang Hingga Laporan Pemalsuan Dokumen

    321 shares
    Share 128 Tweet 80
  • Kecelakaan Beruntun di Kembangan Jakbar Tewaskan Sekeluarga, Libatkan 5 Kendaraan

    316 shares
    Share 126 Tweet 79
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya