Jumat, 23 Oktober 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Opini

Ketika Demokrasi di Korupsi

Editor : Hana oleh Editor : Hana
23 April 2022
in Opini
A A
0
Ketika Demokrasi di Korupsi
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dr. Noviardi Ferzi

koranindopos.com – Psikologi sosial masyarakat untuk kritis berhadapan realitas memalukan hari ini. Konstruknya, ketika nalar publik terus mengalami kemunduran. Masyarakat makin takut untuk bersuara, baik karena hilangnya keberanian atau memang karena tidak peduli disebabkan daya kritis yang kian menurun.

Padahal nalar mengendalikan perilaku masyarakat. Selama ini para ahli bersepakat berbagai perilaku dan siasat perubahan pada dasarnya dikendalikan oleh nalar yang mereka miliki. Ketika nalar telah ditakuti, sesungguhnya demokrasi telah mati.

Dalam lintasan sejarah orde baru bisa berkuasa sangat lama karena sukses memunculkan ketakutan di kalangan kelas menengah ke atas. Kini, ketakutan yang sama telah mengerogoti masyarakat, takut untuk bersuara.

Artikel Terkait

Memahami Makna Perubahan Skor TKA SMA/SMK 2026

Inflasi Nilai, Kenaikan Kelas Otomatis, dan Koreksi Deep Learning

Skor Baru TKA untuk Membaca Kemampuan Murid Lebih Baik

Masyarakat takut untuk menyampaikan pemikiran, meski pemikiran yang paling tidak kritis sekalipun, jangankan tindakan memusuhi penguasa, yang bertentangan dengan kepentingan penguasa masyarakat takut. Rasa takut ini yang menjaga penguasa survive menjalani agenda ekonomi, politik dan semua aspeknya, tanpa merasa terganggu.

Hari ini masyarakat cenderung mengambil jalan tengah, bersikap abu – abu bahkan diam sama sekali untuk menanggapi hal – hal yang membutuhkan keberpihakan manusia.

Meski logika tentang Idealisme sesungguhnya telah lama bergeser. Idealisme yang diuji ketika aktivis masuk ke lingkaran kekuasaan baik di eksekutif maupun legislatif. Faktanya tidak sedikit aktivis yang terkikis idealismenya bahkan hilang idealismenya ketika masuk ke lingkaran kekuasaan. Padahal publik berharap pada mereka untuk bersuara.

Padahal jika dikontekstualisasikan dengan realitas empirik politik di Indonesia maka betapa tidak sedikit aktivis yang berguguran dalam memegang teguh idealismenya

Jika diamati, pudarnya nalar tidak dalam ranah pemikiran, tapi lebih pada psikologi masyarakat untuk nyaman, demi rasa aman ini mereka memilih untuk tidak bersuara apalagi bergerak secara kolektif.

Kemunduran ini juga terjadi di lembaga perwakilan sekelas DPR RI, Pengadilan, organisasi mahasiswa hingga organ jalanan yang semestinya independen sekalipun. Maka, tak heran hari ini orang menilai secara umum civil society mengalami kemunduran, mengalami pelemahan moral publik.

Penurunan bobot atau Regresi demokrasi ini dalam konteks Indonesia pasca pemilu 2019 ditunjukan oleh setidaknya dua hal. Pertama,  revisi UU KPK yang dilakukan secara kilat dinilai melemahkan institusi KPK dan mencederai narasi anti korupsi yang menjadi semangat reformasi.

Pemberlakukan secara otomatis UU KPK (UU No. 19 Tahun 2019) dianggap menguntungkan elit politik tanpa melalui proses yang mengakomodasi aspirasi publik. Dengan demikian gerakan mahasiswa mendesak Presiden untuk mengeluarkan Perppu pembatalan UU KPK sebagai ujian keberpihakan presiden terhadap narasi antikorupsi tersebut.

Kedua, regresi demokrasi berkaitan dengan porsi oposisi dalam pemerintahan. Dalam konteks Indonesia, hasil pemilu 2019 menunjukan minimnya porsi oposisi yang kuat di dalam parlemen berimplikasi pada minimnya pengawasan terhadap pemerintah, akibatnya tidak ada check and balances di dalam proses demokrasi.

Partai oposisi yang tersisa yakni Demokrat meraih 10.876.507 (7,77 persen) suara dan memiliki 54 kursi di DPR. Kemudian PKS meraih 11.493.663 (8,21 persen) suara dan memiliki 50 kursi di DPR.

Total kursi yang dimiliki partai oposisi ialah 104 atau hanya 18,1 persen dari keseluruhan kursi di parlemen.

Presiden Jokowi mestinya belajar dari kegagalan Orde Baru yang menggaungkan pembangunan dengan menciptakan stabilitas politik semu melalui pendekatan amputasi oposisi.

Dalam sistem politik yang lebih terbuka seperti sekarang, pendekatan ini hanya akan memancing perlawanan yang lebih besar dari masyarakat. Pemerintahan dan parlemen yang dihasilkan melalui proses demokratis seharusnya juga merapkan kebijakan dan cara-cara yang demokratis pula.

Walhasil isu apapun digelindingkan saat ini sulit membangkitkan kesadaran dari semua pihak. Padahal Bung Hatta mengingatkan, tugas kaum terdidik untuk terus menerus membimbing jalannya masyarakat. Baik ketika dalam struktur pemerintah ataupun tidak. Kesadaran yang tak lagi dimiliki elit partai.

Persoalan kemunduran nalar adalah kemunduran bersama dan merupakan gejala yang kurang sehat. Meski banyak orang merasa tidak baik-baik saja, tetapi tidak berani bicara. Mereka diam dengan kesimpulan bisu dan kepentingan.

Kemunduran nalar ini, bukan berarti kemampuan berpikir argumentatif yang mundur, tetapi keberanian untuk bersikap. Meskipun alasannya kuat, misalnya keselamatan keluarga. Tapi cara berpikir itu untuk tidak berani bagian dari kemunduran.

Melawan kondisi ini, satu hal yang bisa dilakukan adalah bergerilya, bergerak, jika ada rasa ketakutan itu berbisiklah, dengan narasi dan ide. Akhirnya, kita sadar bahwa hari bahwa, ” Common enemy kita hari ini bukanlah rezim otoriter, tetapi demokrasi itu sendiri. Demokrasi telah dikorupsi oleh elit politik yang berhasil mentransformasikan diri melalui pintu demokrasi. ”

(Penulis meruapakan peneliti)

Topik: DemokrasiKorupsiPartai Politik

TerkaitBerita

Memahami Makna Perubahan Skor TKA SMA/SMK 2026
Opini

Memahami Makna Perubahan Skor TKA SMA/SMK 2026

oleh Editor : Anggoro
21 Oktober 2026
Inflasi Nilai, Kenaikan Kelas Otomatis, dan Koreksi Deep Learning
Opini

Inflasi Nilai, Kenaikan Kelas Otomatis, dan Koreksi Deep Learning

oleh Editor : Anggoro
18 Oktober 2026
Skor Baru TKA untuk Membaca Kemampuan Murid Lebih Baik
Opini

Skor Baru TKA untuk Membaca Kemampuan Murid Lebih Baik

oleh Editor : Anggoro
10 Oktober 2026
Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan
Opini

Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

oleh Editor : Anggoro
28 September 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Direkomendasikan

Bee Frontier dan Bee Eclipse: Amazon Rilis Perangkat AI Pintar Pengelola Waktu dan Ingatan

Bee Frontier dan Bee Eclipse: Amazon Rilis Perangkat AI Pintar Pengelola Waktu dan Ingatan

23 Oktober 2026
Menjelajah Nusantara Tanpa Cemas, Chery Boyong Deretan Kendaraan Listrik Berdaya Jangkau Panjang

Menjelajah Nusantara Tanpa Cemas, Chery Boyong Deretan Kendaraan Listrik Berdaya Jangkau Panjang

23 Oktober 2026
Harga Minyak Dunia Melonjak ke US$ 113 Per Barel, Catat Rekor Tertinggi dalam 5 Bulan

Harga Minyak Dunia Melonjak ke US$ 113 Per Barel, Catat Rekor Tertinggi dalam 5 Bulan

23 Oktober 2026
Harga Emas Antam Ambles Rp 10.000 Per Gram, Harga Buyback Anjlok Hingga Rp 30.000

Harga Emas Antam Ambles Rp 10.000 Per Gram, Harga Buyback Anjlok Hingga Rp 30.000

23 Oktober 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    5034 shares
    Share 2014 Tweet 1259
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    1086 shares
    Share 434 Tweet 272
  • Singapura Ancam Tutup Bisnis Tujuh Perusahaan Dalang Karhutla

    320 shares
    Share 128 Tweet 80
  • The Pizza Company Buka Gerai Pertama di Jakarta Utara, Bidik Pasar Kelapa Gading

    314 shares
    Share 126 Tweet 79
  • MU Hanya Dua Kali Menang, Nasib Michael Carrick di Ujung Tanduk

    312 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya