
JAKARTA, koranindopos – Indonesia menempatkan pekerja yang berprofesi sebagai perawat di Jerman. Penempatan tersebut menggunakan skema (government to government/G to G) dan (government to private/G to P). Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani dalam keterangan pers di Kantor BP2MI, Pancoran, Jakarta Selatan pada Kamis (10/2).
Pada keterangan pers virtual itu, Benny menyampaikan, pihaknya akan memberangkatkan 200 Pekerja Migran Indonesia (PMI) perawat. Menurut Benny, kick off pengiriman para pekerja migran ke Jerman untuk perawat adalah kali pertama di Indonesia, bahkan dunia. Indonesia menempatkan perawat ke Jerman melalui skema G to G dan G to P. ”BP2MI telah menetapkan tahun 2022 adalah tahun penempatan pekerja migran Indonesia, khususnya melalui skema penempatan pemerintah atau G to G dan G to P,” kata Benny.
Pada Februari, pihaknya akan kembali membuka pendaftaran calon perawat ke Jerman. Hal itu dilakukan seiring dengan menurunnya penempatan sebagai dampak Covid-19 sejak 2020. Menurut data BP2MI, pada 2020 terdapat 113 ribu yang ditempatkan dan turun menjadi 72 ribu pada 2021. Sementara penempatan G to G pada 2021 adalah sebesar 19.234 PMI atau 2,2 persen dari total penempatan skema antar-swasta atau P to P yang mencapai 848.792 PMI.
”Saat ini 200 calon PMI masih menjalani pelatihan bahasa Jerman. Bulan Februari akan dilakukan pendaftaran kembali 500 calon perawat untuk ke Jerman. Ini tanda-tanda baik bahwa apa yang menjadi visi BP2MI setiap tahun penempatan kita akan fokus pertama melaui skema G to G dan G to P,” terangnya.
Benny menegaskan, masyarakat tidak perlu ragu dan merasa akses informasinya terbatas. Sebab, BP2MI sudah membuka banyak ruang platform media untuk menyampaikan berbagai informasi program-program. Menurutnya, BP2MI sudah memberikan berbagai kemudahan dan lebih mudah.
”Negara sekarang memberikan fasilitas biaya sekalipun masih bersifat pinjaman ada KTA, BNI dan kita sudah mendapatkan keputusan akhir terkait Kredit Usaha Rakyat (KUR) PMI yang dalam waktu dekat akan di-launching oleh Pak Erlangga, Menko,” jelasnya.
Benny menegaskan bahwa dengan skema tersebut, diharapkan dapat memberika garansi ke negara penempatan bahwa tenaga kerja Indonesia (TKI) yang ditempatkan adalah yang memenuhi kualifikasi dan memiliki kompetensi keahlian yang dibutuhkan.
Skema G to G ke Jerman dimulai tahun ini, bukan skema penempatan pemerintah pertama yang dilakukan Indonesia untuk menempatkan pekerjanya. Sebelumnya, telah dimiliki skema serupa dengan Korea Selatan dan Jepang. ”Kami ingin meyakinkan kepada pihak pemerintah Jerman, negara kami, Indonesia sangat serius untuk mengirimkan setiap anak-anak bangsa yang telah memenuhi kualifikasi dan memiliki kompetisi,” tuturnya. (wyu/mmr)









