Koranindopos.com – JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa mendidik bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan sebuah tindakan optimisme yang didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan Lestari saat memberikan sambutan dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-20 Yayasan Sukma Bangsa yang dipusatkan di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, Aceh, Kamis (23/7).
Menurut Lestari, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak langsung dirasakan oleh para pendidik saat ini, namun akan menjadi fondasi penting bagi kemajuan Indonesia di masa mendatang.
“Mendidik sesungguhnya adalah menanamkan keberanian, menanamkan cita-cita masa depan, meskipun hasilnya belum tentu kita nikmati sendiri. Dia lahir dari keyakinan bahwa setiap anak memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baik,” ujar Lestari.
Lestari yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Sukma Bangsa menilai sekolah yang didirikan atas inisiatif Surya Paloh tersebut bukan sekadar lembaga pendidikan formal.
Artikel Terkait
Menurutnya, Sukma Bangsa merupakan “sekolah kehidupan” yang dibangun dengan semangat kemanusiaan, bukan semata-mata berlandaskan pendekatan akademik atau pedagogi.
Ia menjelaskan bahwa para pendiri sekolah datang membawa misi universal untuk memulihkan harapan masyarakat melalui pendidikan, terutama setelah Aceh menghadapi berbagai tantangan besar pada masa lalu.
Semangat optimisme itulah, kata perempuan yang akrab disapa Rerie, yang hingga kini menjadi roh dalam perjalanan Yayasan Sukma Bangsa.
Dua dekade sejak berdiri, Rerie menyebut optimisme yang ditanamkan kepada para siswa telah membuahkan hasil yang membanggakan.
Ia mengungkapkan bahwa lulusan angkatan pertama Sukma Bangsa kini telah tersebar di berbagai negara dan berkiprah di beragam bidang, mulai dari menjadi tenaga pengajar di universitas ternama hingga memegang posisi kepemimpinan dengan semangat membangun daerah asal mereka.
Menurutnya, keberhasilan para alumni menjadi bukti bahwa pendidikan yang berlandaskan nilai kemanusiaan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
“Mereka membawa semangat bahwa Aceh tidak boleh mati,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rerie juga menyinggung kontribusi Sukma Bangsa dalam diplomasi kemanusiaan di tingkat internasional.
Ia mengungkapkan bahwa para guru dan dunia pendidikan pernah memainkan peran penting dalam proses negosiasi pembebasan sandera di Mindanao, Filipina. Sebagai bagian dari proses tersebut, diberikan akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari wilayah tersebut.
Menurutnya, peristiwa itu menunjukkan bahwa pendidikan memiliki kekuatan yang melampaui ruang kelas, bahkan mampu menjadi jembatan perdamaian dan kerja sama kemanusiaan.
Memasuki usia ke-20, Yayasan Sukma Bangsa, kata Rerie, tetap memegang teguh prinsip istikamah. Ia menegaskan bahwa sikap tersebut bukan berarti menolak perubahan, melainkan tetap setia pada nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi pendidikan.
Nilai-nilai seperti kejujuran, belas kasih, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama manusia harus terus dijaga, terutama di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
“Tantangan hari ini sudah berbeda, teknologi mempercepat pengetahuan, tapi teknologi tidak dapat menghadirkan kasih sayang,” ujarnya.
Menurut Rerie, kemajuan teknologi memang mampu mempercepat akses terhadap informasi dan pengetahuan. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan sentuhan kemanusiaan yang menjadi inti dari proses pendidikan.
Sebagai anggota Komisi X DPR RI, Lestari menekankan bahwa di era disrupsi digital, pendidikan harus tetap berorientasi pada pembentukan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan.
Ia mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi tidak boleh mengikis empati, kepedulian, maupun rasa tanggung jawab sosial yang harus dimiliki setiap generasi penerus bangsa.
Menurutnya, nilai-nilai kemanusiaan merupakan kompas utama dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang maju, adil, dan berdaya saing.
Melalui momentum peringatan dua dekade Yayasan Sukma Bangsa, Lestari berharap seluruh insan pendidikan terus menjaga optimisme dalam mendidik generasi muda. Sebab, setiap upaya mendidik pada hakikatnya merupakan investasi untuk memastikan masa depan bangsa tetap terjaga melalui lahirnya generasi yang cerdas, berkarakter, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.(Dhil)










