Oleh : Lili Retnosari*
koranindopos.com – Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak hampir tiga tahun lalu, tentu masih hangat di ingatan kita. Terbatasnya ruang gerak dan berbagai dampak lainnya akibat pandemi, hampir dirasakan seluruh kalangan di berbagai bidang. Selain masalah kesehatan, pandemi Covid-19 juga sangat berdampak pada sosial ekonomi kehidupan. Bahkan, proses pemulihan dari beberapa dampak tersebut masih terus berlanjut sampai sekarang.
Berdasarkan data BPS, sejak mulai terjadi pandemi covid-19 pada Maret 2020, ekonomi Indonesia terus mengalami kontraksi. Pada triwulan 2-2020, ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar -5,32% (y-on-y). Lalu, pada triwulan 3-2020, terkontraksi sebesar -3,49% (y-on-y). Selanjutnya, terkontraksi sebesar -2,19% (y-on-y) pada triwulan 4-2020, dan sebesar -0,71% (y-on-y) pada triwulan 1-2021. Selain itu, jika dibandingkan dengan tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar -2,07% (c-to-c).
Ketika kita amati lebih dalam, hampir seluruh sektor memang mengalami pertumbuhan yang negatif pada saat pandemi. Namun, menariknya, sektor pertanian justru mampu bertahan dan menunjukkan pertumbuhan yang positif di tengah guncangan covid-19. Ekspor produk pertanian dan olahannya pun menjadi penyumbang utama surplus neraca perdagangan barang Indonesia saat masa pandemi. Bahkan, sektor pertanian dapat dikatakan sebagai tumpuan bagi low skilled labours dan menjadi bantalan ketenagakerjaan selama pandemi. Pasalnya, penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian justru tertinggi dibandingkan dengan sektor lainnya, yakni sekitar 29,96% pada Februari 2022. Hal ini menunjukkan peran besar dan pentingnya sektor pertanian.
Sektor pertanian dapat dikatakan sebagai salah satu pilar kekuatan ekonomi Indonesia. Pada perekonomian nasional, sektor pertanian menyumbang lebih dari sepuluh persen. Sektor pertanian juga masih menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Oleh karena itu, sangat penting untuk terus membangun sektor pertanian. Dengan terus meningkatkan pembangunan sektor pertanian, diharapkan akan mampu mewujudkan kedaulatan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Sensus Pertanian 2023 (ST2023)
Pada bulan Juni 2023 mendatang, BPS akan melakukan ST2023. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 tahun 1997, penyelenggaraan sensus pertanian memang menjadi tugas dan tanggung jawab BPS. Sensus pertanian dilakukan setiap sepuluh tahun sekali yaitu pada tahun yang berakhiran 3 (tiga).
Penyelenggaraan sensus pertanian telah dilakukan oleh BPS sejak tahun 1963, dan ST2023 merupakan sensus pertanian yang ketujuh. Sensus pertanian ini tidak hanya dilakukan di Indonesia, melainkan juga negara-negara anggota Food and Agriculture Organization (FAO) lainnya. Terdapat sekitar 18 negara yang akan bersama-sama dengan Indonesia melaksanakan sensus pertanian pada 2023.
Perlu diketahui, ST2023 adalah kegiatan besar yang bertujuan untuk memberikan gambaran secara aktual mengenai kondisi pertanian di Indonesia. Melalui sensus pertanian ini lah data statistik dasar sektor pertanian secara lengkap dan menyeluruh dikumpulkan. ST2023, selain menghasilkan data struktur pertanian dan petani gurem (seperti data yang dihasilkan dalam ST2013), juga akan menghasilkan data terkait indikator SDGs pertanian, small scale producer (petani skala kecil sesuai standar FAO), geospasial statistik pertanian, dan manajemen pertanian.
Secara umum, ST2023 memiliki tujuan untuk mendapatkan data statistik pertanian yang lengkap dan akurat supaya diperoleh gambaran yang jelas tentang pertanian di Indonesia; untuk mendapatkan kerangka sampel (sampling frame) yang dapat dijadikan landasan pengambilan sampel untuk survei-survei di sektor pertanian; serta untuk memperoleh berbagai informasi tentang populasi usaha pertanian, jumlah pohon dan ternak, distribusi penguasaan dan pengusahaan lahan menurut golongan luas, dan sebagainya.
Hasil yang diperoleh dari ST2023 nantinya dirancang berstandar internasional dan mengacu pada program FAO yang dikenal dengan nama World Programme for the Census of Agriculture (WCA). Hasil dari ST2023 diharapkan dapat memberikan gambaran secara komprehensif terkait kondisi pertanian di Indonesia hingga wilayah terkecil; dapat meningkatan kualitas statistik pertanian (sebagai kerangka sampel survei pertanian, sebagai benchmark statistik pertanian yang sudah ada); serta mampu meningkatan kualitas desain kebijakan: rujukan dalam penyusunan kebijakan strategis sektor pertanian.
Pengumpulan Data ST2023
Proses pengumpulan data ST2023 diselenggarakan dalam tiga tahap. Tahap pertama merupakan sensus lengkap, yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan memperoleh data ringkas kegiatan usaha pertanian yang diusahakan oleh suatu unit usaha. Unit usaha pertanian yang teridentifikasi, selanjutnya akan digunakan untuk pengumpulan data lebih lanjut terkait informasi kegiatan usaha pertaniannya. Tahap kedua yaitu survei yang memotret profil ekonomi sektor pertanian, dan disebut dengan Survei Ekonomi Petani. Selanjutnya, tahap terakhir adalah Survei Produksi dan Lingkungan Pertanian yang mengumpulkan informasi mengenai produksi dan lingkungan dari unit usaha pertanian.
ST2023 akan dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia dan mencakup tujuh subsektor pertanian yang meliputi tanaman pangan, hortukultura, perkebunan, perikanan, peternakan, kehutanan, dan jasa pertanian. Unit usaha pertanian ST2023 yang akan didata mencakup Usaha Pertanian Perorangan (UTP), Usaha Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum (UPB), dan Usaha Pertanian Lainnya (UTL). Selain memotret kegiatan pengelolaan usaha pertanian dan produksinya, ST2023 juga memotret kondisi sosial ekonomi petani yang mampu menggambarkan tingkat kesejahteraan petani.
Pada ST2023 ini, metode yang digunakan dalam pendataan ST2023 antara lain door to door untuk daerah konsentrasi dan Snowball untuk daerah non konsentrasi serta pencacahan lengkap untuk Usaha Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum (UPBH) dan Usaha Pertanian Lainnya (UTL). Sementara itu, moda pendataan yang digunakan adalah PAPI (Paper Assisted Personal Interviewing), CAPI (Computer Assisted Personal Interviewing) serta CAWI (Computer Assisted Web Interviewing). Langkah ini merupakan terobosan baru BPS, karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, pengumpulan data sensus pertanian menggunakan moda selain PAPI, yaitu CAPI dan CAWI. Metode CAPI dilakukan dengan bantuan device protable (tablet/smartphone) yang disediakan sendiri oleh petugas. Sementara itu, dengan metode CAWI responden dapat melakukan pengisian kuesioner secara mandiri melalui website. Dengan adanya langkah ini, diharapkan proses pengumpulan data akan menjadi lebih efektif dan efisien.
Data hasil ST2023 sangat penting untuk menjawab berbagai isu pertanian terkini serta untuk menghadapi ketidakpastian global. Oleh karena itu, dukungan dari seluruh pihak menjadi sedemikian penting untuk kesuksesan pelaksanaan ST2023 ini. Semoga dengan Mencatat Pertanian Indonesia, kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani pun tercapai.
*Penulis merupakan Statistisi di BPS










