koranindopos.com, JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat penanganan pascabencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh akibat cuaca ekstrem Siklon Tropis Senyar pada akhir November 2025. Bencana tersebut memicu hujan berintensitas tinggi yang menyebabkan banjir, banjir bandang, serta tanah longsor, sehingga merusak permukiman warga dan infrastruktur Sumber Daya Air (SDA).
Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa Kementerian PU bergerak cepat dalam upaya pemulihan fungsi infrastruktur SDA guna mengurangi risiko terjadinya banjir susulan. Penanganan darurat difokuskan pada pembersihan sedimen, normalisasi sungai, serta perbaikan alur sungai di sejumlah titik kritis agar aliran air kembali lancar dan aman bagi masyarakat.
“Penanganan darurat kami fokuskan pada pembersihan sedimen, normalisasi sungai, serta perbaikan alur sungai di titik-titik kritis agar aliran air kembali lancar dan masyarakat dapat beraktivitas dengan aman,” ujar Menteri Dody.
Selain pengendalian daya rusak air, pemulihan layanan air bersih juga menjadi prioritas utama. Menteri Dody menekankan bahwa ketersediaan air bersih sangat penting untuk mendukung pemulihan kesehatan, lingkungan, dan aktivitas masyarakat terdampak.
“Air bersih adalah kebutuhan utama masyarakat. Kementerian PU berkomitmen memastikan layanan air bersih tetap tersedia agar kehidupan masyarakat dapat kembali berjalan normal,” tambahnya.
Hingga 2 Januari 2026, Kementerian PU telah memobilisasi 33 unit alat berat yang dikerahkan ke berbagai kabupaten terdampak, antara lain Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Aceh Barat, Aceh Utara, Aceh Tenggara, Bireuen, dan Aceh Tamiang.
Di Kabupaten Pidie, penanganan difokuskan pada Bendung Tiro melalui pembersihan sampah dan sedimen sepanjang 1.600 meter serta normalisasi Sungai Krueng Tiro di Blang Rikul. Selain itu, Kementerian PU menyalurkan 100 buah geobag untuk penanganan darurat banjir.
Sementara itu, di Kabupaten Pidie Jaya dilakukan pembersihan kayu dan pelebaran alur Sungai Krueng Meureudu dengan progres mencapai 900 meter dari target 1.500 meter. Normalisasi juga dilakukan di Sungai Krueng Jeulanga sepanjang 100 meter.
Di Kabupaten Aceh Tenggara, perbaikan alur Sungai Lawe Alas telah mencapai panjang 1.100 meter di beberapa desa, serta dilanjutkan pada Sungai Lawe Bulan di Desa Simpang IV untuk menekan risiko luapan sungai berulang.
Penanganan di Kabupaten Bireuen meliputi perbaikan alur Sungai Krueng Peusangan dan pembersihan akses serta fasilitas di kawasan Krueng Samalanga. Adapun di Kabupaten Aceh Utara, pekerjaan difokuskan pada pembersihan sampah dan sedimentasi di Bendung Jambo Aye guna memulihkan fungsi bendung. Di Kabupaten Aceh Tamiang, Kementerian PU membangun sumur bor darurat sebagai dukungan penyediaan air bersih bagi warga terdampak.
Ke depan, Kementerian PU akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar penanganan darurat berjalan optimal. Upaya ini juga disertai dengan penyiapan mitigasi jangka menengah dan panjang untuk memperkuat ketahanan wilayah Aceh terhadap potensi bencana hidrometeorologi di masa mendatang.
Program penanganan ini merupakan bagian dari komitmen “Setahun Bekerja, Bergerak – Berdampak” dalam mendukung pelaksanaan ASTA CITA Presiden Prabowo Subianto. (rls/sh)










