
JAKARTA, koranindopos.com – Kementerian Agama (Kemenag) mendukung dan menyambut baik keputusan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang telah menetapkan 15 Maret sebagai ‘Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia’. Keputusan ini diterbitkan dalam Sidang Umum PBB yang berlangsung pada Selasa, 15 Maret 2022. Sudah seharusnya semua bentuk prasangka dan ketakutan yang dialamatkan kepada agama apapun termasuk Islam harus diperangi.
“Kemenag menyambut baik dan mendukung ketetapan PBB, tanggal 15 Maret dijadikan sebagai ‘Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia’. Segala bentuk Islamofobia memang harus diperangi,” tegas Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas di Jakarta. Istilah Islamofobia sering dipahami sebagai gelombang prasangka, diskriminasi, ketakutan, dan kebencian terhadap Islam dan muslim. Menurut Yaqut, semua bentuk prasangka dan ketakutan kepada agama harus diperangi.
Menteri yang akrab disapa Gus Yaqut itu mengungkapkan bahwa Islamofobia adalah salah satu faktor yang mengancam kerukunan dan harmoni antarumat beragama. Karena itu, segala bentuk gelombang ketakutan terhadap agama harus diperangi. Keputusan PBB tersebut bisa menjadi momentum bagi umat Islam untuk berada di garda terdepan dalam mengatasi berbagai permasalahan dunia. “Umat Islam harus dapat menunjukkan tingkah laku yang sesuai dengan prinsip Islam yang cinta damai,” papar Gus Yaqut dalam siaran persnya, Sabtu (19/3).
Gus Yaqut juga menyarankan agar umat agama lainnya untuk menunjukkan sikap sesuai ajaran agamanya masing-masing yang tentu mengedepankan persaudaraan dan kedamaian. Penting bagi umat seluruh agama untuk memastikan bahwa kerukunan, perdamaian, dan harmoni adalah ajaran universal agama. “Sudah semestinya semua bergerak bersama dalam menciptakan persaudaraan kemanusiaan, bukan perpecahan dan permusuhan,” jelas Gus Yaqut.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menegaskan bahwa tidak ada ajaran agama manapun yang membenarkan tindakan kekerasan, apa pun motifnya. Memuliakan nilai kemanusiaan adalah esensi ajaran semua agama. Ikhtiar mewujudkan perdamaian dunia harus terus diupayakan. Sebagai bagian dari upaya tersebut, pihaknya kini tengah berupaya menjalin komunikasi dengan dua tokoh agama dunia, Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Al-Tayeb dan Pemimpin Gereja Vatikan Paus Fransiskus.
“Kami mengapresiasi inisiatif keduanya dalam mempromosikan nilai-nilai koeksistensi, toleransi, dan perdamaian yang dirinci dalam Dokumen Persaudaraan Manusia,” papar Yaqut. Menurutnya, dokumen tersebut ditandatangani bersama oleh Imam Besar Ahmed Al-Tayeb dan Paus Fransiskus di Abu Dhabi pada Februari 2019. Pihaknya masih mengupayakan kedua tokoh agama dunia itu bisa hadir di Indonesia untuk melihat kerukunan, harmoni, dan persaudaraan bangsa Indonesia yang sangat beragam.(hai)









