Koranindopos.com, JAKARTA – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) membuka posko pengaduan konsumen Transjakarta (TJ) yang merasa dirugikan. Terutama pasca penerapan kebijakan baru sistem ticketing.
Sebagimana diberitakan sebelumnya, penerapan sistem tap in tap out oleh PT Jaklingko Indonesia (JLI) pada layanan Transportasi Jakarta sudah berlangsung selama sepekan. Namun, sistem tersebut masih bermasalah. Masih ada pengguna TJ yang menemukan kartu elektroniknya dipotong dua kali saat melakukan tap in tap out. Bukan hanya itu, penerapan sistem yang merugikan pengguna TJ saat penerapan awal sistem tersebut belum ada solusi yang memuaskan.
Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menuturkan, sejak awal sistem tersebut diterapkan banyak pengguna TJ yang dirugikan. ”Sejak diterapkan 4 Oktober lalu, sistem tap in tap out itu mempanjang antrean karena infrastruktur yang ada belum memadai tapi sudah dipaksakan tanpa ada sosialisasi. Akibatnya, penumpang yang dirugikan, baik dari segi waktu maupun dari segi uang,” katanya.
Tulus menyebutkan, ada beberapa masalah yang terjadi akibat penerapan sistem JLI pada layanan TJ tersebut. Pertama, dari segi waktu terjadi antrean saat akan masuk maupun keluar halte TJ karena tidak semua kartu bisa sukses sekalitaping. Pengguna layanan TJ memerlukan waktu yang lebih lama untuk bisa tap in tap out. ”Normalnya, taping hanya butuh waktu dua detik saja, tapi ada yang sampai 10 detik dan gagal. Kondisi seperti ini terutama terjadi pada sore hari di halte-halte yang sibuk. Konsekuensinya makin memperpanjang antrean. Kondisi yang sama juga terjadi di layanan non koridor, mereka tidak bisa sukses taping sekali, akhirnya bus berhenti lebih lama dan itu berdampak terganggunya lalu lintas di jalur tersebut,” terangnya.
Masalah kedua, dari segi uang, banyak penumpang mengeluhkan saldonya terpotong dua kali bahkan lebih, sehingga mereka merasa dirugikan TJ. Ketika komplain kepada petugas di halte, hanya diarahkan melapor ke nomor aduan yang dipasang di halte-halte. ”Bagi penumpang ini bukan solusi, karena ketika mengadu, sudah kehilangan pulsa, tapi uang belum tentu kembali,” kata Tulus.
Dia menyebutkan, penerapan sistem yang belum matang tersebut akan merugikan TJ. Sebab, akan banyak pengguna layanan TJ yang akan meninggalkan TJ karena tidak mau antre panjang, repot taping saat masuk maupun keluar, dan saldo yang terpotong lebih dua kali.
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Ahmad Riza Patria menuturkan, permasalahan sistem tersebut masih terus diperbaiki. ”Masalah itu terus kami perbaiki. Tujuan (sistem) itu sangat baik, supaya kami tau dia masuk di mana dan keluar di mana. Dengan sistem terintegrasi tersebut, kita jadi tau perjalanan orang, dari mana ke mana,” katanya. Jadi, lanjutnya, tujuannya bukan supaya bayar dua kali. (wyu/mmr)











Pengaduan doang ditanggapi engga apalalgi di bela semuanya bela pejabat takut kehilangan proyek padahal.mati ga bawa banda jadinrebutan diang