koranindopos.com – Jakarta. Pemerintah Indonesia telah mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi dan mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mungkin terjadi akibat dampak fenomena El Nino. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, mengumumkan hal ini setelah mengikuti rapat terbatas yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo.
Sejak tanggal 28 September, pemerintah telah aktif melakukan pemadaman dan teknik modifikasi cuaca (TMC) di sejumlah provinsi yang berpotensi mengalami karhutla, seperti Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Menurut data per tanggal 2 Oktober 2023, tercatat 6.659 titik panas (hot spot) dengan peluang 80 persen untuk berkembang menjadi titik api atau fire spot. Areal yang telah terbakar mencapai 267 ribu hektare, dan perkiraan Siti Nurbaya adalah bahwa jumlah tersebut masih akan terus bertambah.
Namun, Siti Nurbaya memastikan bahwa hingga saat ini tidak ada pencemaran asap lintas batas atau transboundary haze ke negara tetangga, seperti Malaysia. Data citra satelit juga menunjukkan bahwa Malaysia memiliki hot spot yang terkait dengan potensi kebakaran.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, mengumumkan bahwa pihaknya telah menggerakkan sebanyak 35 helikopter, termasuk 13 helikopter patroli dan 22 helikopter water bombing, untuk mendukung operasi darat dan udara dalam penanganan karhutla. Enam provinsi yang menjadi prioritas dalam penanganan karhutla adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi.
BNPB juga telah melakukan teknologi modifikasi cuaca sebanyak 244 kali, dengan jumlah garam yang disebar mencapai 341.580 kilogram. Ini merupakan langkah penting dalam mengendalikan potensi kebakaran.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, memberikan informasi bahwa puncak El Nino diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Oktober. Namun, pada bulan November, akan terjadi transisi dari musim kemarau ke musim hujan. Meskipun pengaruh El Nino masih akan berlanjut hingga akhir tahun, diprediksi akan melemah pada Februari-Maret dan berakhir pada bulan Maret.
Kehadiran angin monsun dari arah Asia yang mulai memasuki wilayah Indonesia pada bulan November diharapkan akan membawa hujan, sehingga pengaruh El Nino secara bertahap akan berkurang. Hal ini diharapkan dapat mengakhiri musim kemarau yang panjang dan membawa kesegaran bagi lingkungan serta pertanian di Indonesia. (dni)










