Koranindopos.com – Jakarta. Selama ini, Nia Wong menjadi salah satu Jastiper (pelaku usaha jasa titip atau Jastip) Bangkok yang cukup sukses.
Namun beberapa bulan ini, Nia Wong memutuskan pensiun dari Jastiper Bangkok. Meski begitu bukan berarti ia lepas dari dunia Jastip.
Ternyata Nia Wong fokus melahirkan para Jastiper yang profitable dan bertanggung jawab. Ia juga rajin memberikan edukasi Jastiper lewat akun Instagram (@niawong_) dan Tiktoknya (@sipenebarracun).
“Karena banyak sekali wanita muda dan pasangan muda yang meminta saya adiajarkan menjadi Jastiper,” kata Nia Wong.
Seperti diketahui, Jastip saat ini memang tengah naik daun menjadi usaha menggiurkan. Dengan modal sedikit, bahkan tanpa modal, sembari jalan-jalan, pelakunya bisa menanggok untung hingga 2-3x Lipat.
Diantara berbagai destinasi, Jastip Bangkok menjadi primadona. Kini banyak Jastiper (pelaku usaha Jastip) yang bolak-balik ke Bangkok hanya untuk berbelanja barang-barang yang dipesan pelanggannya. Dan itulah yang dilakukan Nia Wong selama ini.

“Setelah cerai tahun 2018, saya mencoba peruntungan buka Jastiper ke Bangkok. Sebelum berangkat, saya share dulu ke sosmed. Ternyata banyak teman yang chat mau nitip ini-itu,” cerita Nia Wong.
Mendapat banyak keuntungan, Nia Wong menjalaninya secara profesional. Sebulan beberapakali ia bolak-balik ke ibu kota Thailand itu sebagai Jastiper.
“Bahkan banyak juga publik figur yang nitip, beli barang harganya sejuta, tapi ditransr 20 juta,” beber Nia Wong.
Nia Wong menegaskan kalau Jastiper bukan profesi yang mudah dilakukan. Banyak hal yang harus dipelajari para Jastiper. Termasuk biaya kargo dan regulasi bea cukai. Dan juga mental dari seorang jastiper
“Tidak hanya menambahkan harga untung dari harga modal karena ada hitungan dan resiko yang harus dipertimbangkan,” kata Nia Wong.
“Karena untuk menjadi Jastiper itu, kamu hanya bisa belajar dari pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain. Dan saya ingin pengalaman saya berguna dan membawa impact untuk orang lain ,” sambungnya.
Selain itu, Nia Wong juga kesal dengan beberapa konten kreator yang memberi informasi tak benar soal Jastiper.
“Misalnya bikin konten soal kargo, tapi nggak edukasi lebih lanjut dampak panjangnya seperti apa,” kata Nia Wong.
“Malah ada orang yang nggak tahu label ganja, jadi Jastiper itu kirm snack ganja ke Indonesia. Dampaknya ke kargo kita para Jastiper yang kiriman kita sekarang harus dibongkar-bongkar,” kata Nia Wong lagi.










