Koranindopos.com, Jakarta – Langkah pemerintah memperluas akses pendidikan bagi kelompok masyarakat rentan kembali diperlihatkan melalui peresmian ratusan Sekolah Rakyat di berbagai penjuru Indonesia. Program pendidikan ini dirancang untuk menjangkau anak-anak dari keluarga prasejahtera, termasuk mereka yang tinggal di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal, agar memperoleh kesempatan belajar yang setara sejak dini.
Momentum tersebut ditandai dengan kehadiran Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di Sekolah Rakyat Terintegrasi 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dari lokasi ini, Presiden meresmikan secara nasional 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota.
Jangkauan program ini bahkan telah menembus wilayah Papua, Maluku, hingga Nusa Tenggara, daerah-daerah yang selama ini menghadapi keterbatasan sarana pendidikan.
Dalam kunjungannya, Presiden tidak hanya mengikuti agenda seremonial. Ia juga meninjau langsung fasilitas penunjang pembelajaran, termasuk perpustakaan sekolah. Perpustakaan di Sekolah Rakyat menjadi bagian penting dari penguatan literasi, berkat dukungan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) yang menghadirkan ribuan koleksi buku cetak serta fasilitas Anjungan Baca Digital.
Keberadaan anjungan digital tersebut memungkinkan para siswa mengakses beragam bahan bacaan secara daring, membuka peluang belajar yang lebih luas di luar kelas. Saat melihat langsung ruang perpustakaan, Presiden menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi sebagai pendukung pembelajaran.
“Mereka bisa akses ya, lewat online buku digital dapat dibaca,” ucap Presiden saat meninjau perpustakaan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026).
Perhatian Presiden terhadap literasi sejalan dengan perkembangan yang mulai ditunjukkan para siswa Sekolah Rakyat. Sejumlah karya tulis peserta didik tercatat telah tampil di tingkat nasional. Tidak hanya itu, dalam waktu yang relatif singkat sejak sekolah ini berdiri, prestasi akademik juga mulai bermunculan.

Presiden mengaku terkesan dengan capaian tersebut, terutama karena beberapa siswa telah menorehkan prestasi di ajang olimpiade.
“Saya kagum, baru enam bulan sudah ada yang juara olimpiade. Saya terharu dan bangga,” ujarnya.
Dalam pidatonya, Presiden kembali menegaskan bahwa tujuan bernegara sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Menurutnya, negara memiliki tanggung jawab melindungi warganya dari kemiskinan, kelaparan, penyakit, dan berbagai bentuk penderitaan sosial.
“Kita bernegara untuk memperbaiki kehidupan seluruh rakyat Indonesia. Itu tujuan kita merdeka,” tegasnya.
Pesan khusus juga disampaikan Presiden kepada para siswa Sekolah Rakyat yang sebagian besar berasal dari keluarga sederhana. Ia meminta mereka untuk tidak merasa rendah diri dengan latar belakang orang tua.
“Jangan kau kecil hati, jangan malu orang tuamu hanya buruh atau petani miskin. Mereka mulia, bekerja keras dengan cara halal untuk masa depanmu,” pesan Presiden.
Ke depan, Sekolah Rakyat diproyeksikan menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam upaya memutus rantai kemiskinan. Presiden menyampaikan target pembangunan 500 Sekolah Rakyat hingga tahun 2029, masing-masing dengan kapasitas sekitar 1.000 siswa.
Dengan target tersebut, jumlah penerima manfaat diperkirakan dapat mencapai 500 ribu siswa di seluruh Indonesia.
Target ambisius itu disebut sejalan dengan visi pemerintah untuk menghapus kemiskinan ekstrem.
“Cita-cita saya di akhir masa jabatan 2029, kemiskinan ekstrem bisa kita hilangkan dari Indonesia,” ungkapnya.Melalui penguatan pendidikan, literasi, dan pemerataan akses belajar, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi fondasi bagi lahirnya generasi baru yang mampu keluar dari lingkaran kemiskinan dan berkontribusi nyata bagi masa depan bangsa. (Brg/Kul)









