koranindopos.com – Jakarta. Sebagai kota metropolitan, di Jakarta masih banyak ditemukan kawasan kumuh. Untuk mengetahui data pasti kawasan kumuh tersebut, Pemprov DKI bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) sedang melakukan sinkronisasi data.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) DKI menuturkan, setelah sinkronisasi rampung, maka akan teridentifikasi kawasan kumuh mana saja yang akan ditata. Hal itu juga disebutkannya sebagai salah satu langkah Pemprov DKI dan pemerintah pusat untuk mengatasi tengkes dan kemiskinan ekstrem.
”Jadi, datanya baru disinkronkan. Setelah itu kami baru bisa melakukan intervensi melalui perbaikan sarana umum. Mulai dari jalan, lingkungan, penerangan, penghijauan, dan sebagainya. Termasuk juga aspek sanitasi, terutama MCK (Mandi, Cuci, Kakus) komunal ataupun air bersihnya,” terang Kepala Dinas PRKP DKI Sarjoko.
Untuk melakukan penataan kawasan kumuh tersebut, Sarjoko menyebutkan ada beberapa pendekatan pendanaan yang dilakukan. Baik menggunakan APBD DKI 2023 maupun dana non APBD. ”Jadi, kalau misalnya aspek privat, tentu akan menggunakan dana non-APBD DKI, sumber yang memungkinkan. Tapi, kalau lahan Pemprov DKI, kami menggunakan dana APBD DKI atau dana SP3L (Surat Persetujuan Penunjukan Penggunaan Lokasi atau Lahan) jadi mana yang memungkinkan,” katanya.
Meski data kawasan kumuh masih akan disinkronisasikan, namun dia menyebutkan beberapa kawasan yang menjadi prioritas. Utamanya, yang berlokasi di Jakarta Utara. Yakni, Muara Angke dan Kalibaru. ”Lokasinya yang paling banyak kemiskinan ekstrem, sementara seperti itu,” ujarnya.
Lebih lanjut, lantaran data masih disinkronkan, meski ada yang menggunakan APBD DKI, dia menyebutkan belum ada alokasi khusus yang terlihat dalam APBD DKI tahun ini. Jadi, dia belum bisa menjelaskan secara rinci dana yang disiapkan melalui APBD tahun ini untuk penataan kawasan kampung kumuh tersebut.
”Dana spesifiknya belum. Ini kan belum bisa pastikan jumlahnya. Kami identifikasi dulu lokasi mana yang perlu dilakukan intervensi setelah sinkronisasi datanya. Pendanaannya kami akan lihat yang paling memungkinkan,” imbuhnya. (wyu/mmr)










