koranindopos.com, JAKARTA – TEDxSampoerna University 2026 kembali hadir sebagai ruang refleksi dan inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Mengusung tema “AfterAll: What Remains Beneath”, acara yang digelar pada 7 Maret 2026 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki ini mengajak Gen Z untuk sejenak berhenti, melihat ke dalam diri, dan menemukan nilai-nilai yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Memasuki penyelenggaraan keenamnya, TEDxSampoerna University menghadirkan delapan pembicara terkurasi yang berbagi gagasan melalui tiga subtema utama, yaitu Beneath Idea, Beneath Action, dan Beneath Expression. Melalui berbagai perspektif dan pengalaman personal, para pembicara mengajak audiens memahami bahwa di balik setiap ide, tindakan, dan ekspresi, selalu ada proses pembelajaran yang membentuk jati diri seseorang.
Salah satu pembicara yang hadir adalah Edward Tirtanata, CEO dan Founder Kopi Kenangan. Dalam sesi bertajuk “Behind the Pitch: The Power of Resilience in Innovation”, Edward berbagi kisah perjalanan membangun bisnis yang tidak selalu berjalan mulus. Ia menceritakan bagaimana berbagai tantangan seperti pandemi Covid-19, tekanan inflasi, hingga strategi ekspansi yang terlalu cepat pernah menjadi ujian bagi perusahaan yang ia dirikan.
Namun dari berbagai tantangan tersebut, Edward dan tim memilih untuk kembali memperkuat fondasi dari dalam. Mereka menata ulang strategi brand, memperjelas identitas, serta mengubah cara pandang bahwa yang mereka bangun bukan sekadar menjual kopi, tetapi menghadirkan sebuah brand dengan nilai yang kuat. Baginya, perjalanan ini adalah proses belajar yang tidak pernah berhenti tentang bagaimana menjadi versi diri yang lebih baik dari hari ke hari.

Inspirasi lain datang dari sutradara film Naya Anindita yang mengangkat topik “Why Real Beats Perfect”. Melalui kisah perjalanan kreatifnya, Naya berbagi pengalaman tentang bagaimana ia pernah berusaha mengejar kesempurnaan dalam setiap karya. Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa kesempurnaan adalah tujuan yang tak pernah benar-benar memiliki akhir.
Dari berbagai kegagalan yang pernah ia alami, Naya justru menemukan makna yang lebih dalam: keberanian untuk jujur dalam berkarya dan menerima diri sendiri apa adanya. Ia percaya bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian alami dari proses bertumbuh. Dengan menerima kegagalan, seseorang dapat terus melangkah maju dan menemukan versi diri yang lebih kuat.
Semangat yang dibagikan para pembicara ini sejalan dengan visi Sampoerna University dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia yang terus berubah. Melalui kurikulum berstandar Amerika Serikat yang diakui secara global, universitas ini tidak hanya menekankan kekuatan akademik, tetapi juga mendorong kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan masa depan.
Tema “AfterAll: What Remains Beneath” sendiri lahir dari realitas bahwa dunia saat ini bergerak semakin cepat. Perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan, perubahan budaya, hingga dinamika karier yang sulit diprediksi membuat banyak anak muda mulai mempertanyakan arah dan makna perjalanan hidup mereka. Bahkan, laporan Ipsos AI Monitor 2024 mencatat bahwa 44 persen responden di Indonesia percaya bahwa AI akan mengubah cara manusia bekerja dalam lima tahun ke depan.
Melalui acara ini, generasi muda diajak untuk kembali melihat apa yang tetap bertahan di balik segala perubahan tersebut. Nilai diri, resiliensi, kreativitas, serta kemanusiaan menjadi “jangkar” yang membantu seseorang tetap teguh menghadapi masa depan yang dinamis.
Mewakili Sampoerna University, Vice Rector of Student Success Erik Krauss turut menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan acara ini. Ia menilai bahwa TEDxSampoerna University bukan hanya sekadar forum berbagi ide, tetapi juga ruang yang menguatkan karakter dan arah hidup generasi muda.
Melalui inisiatif seperti ini, Sampoerna University berharap dapat terus menghadirkan ruang inspiratif yang mendorong lahirnya ide-ide baru serta semangat berkarya di tengah era disrupsi. Sebuah pengingat bahwa di balik segala perubahan, selalu ada nilai-nilai yang dapat menjadi pegangan untuk terus melangkah maju. (sh)










