Koranindopos.com – JAKARTA – TNI menyita delapan pucuk senjata api jenis SS1 P1 yang disebut dimiliki kelompok bersenjata di Papua. Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subianto mengatakan senjata tersebut merupakan senjata yang sebelumnya direbut oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) dari satuan TNI.
“Tadi laporan dari Pangkogabwilhan sudah mendapatkan 8 pucuk senjata. Ada jenis SS1 P1 yang direbut oleh OPM dari satuan TNI. 8 pucuk,” kata Agus di sela-sela acara Festival Band di Pancoran, Jakarta, Minggu (27/9/2026).
Agus menyampaikan penyitaan tersebut berkaitan dengan upaya penanganan kelompok bersenjata yang diduga terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan di Papua.
Agus juga menyampaikan komitmennya untuk menindak kelompok bersenjata yang disebutnya sebagai OPM.
“OPM (Organisasi Papua Merdeka) ini kan separatis, ya harus ditumpas. Tidak boleh ada separatis di negara kita,” ujar Agus.
Meski demikian, Agus mengatakan penanganan persoalan keamanan di Papua tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan militer. Menurut dia, penyelesaian persoalan di Papua membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
Agus mengatakan jika persoalan Papua hanya ditangani TNI, pendekatan tersebut akan selalu dikaitkan dengan kekerasan. Karena itu, menurut dia, upaya keamanan perlu berjalan bersama pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.
Ia menyebut TNI turut terlibat dalam pembangunan sejumlah fasilitas di Papua, termasuk fasilitas gereja, penyediaan air bersih, layanan kesehatan, serta kegiatan mengajar anak-anak.
“Jadi kita ke sana membantu percepatan, kesejahteraan, pembangunan, kesejahteraan masyarakat yang ada di sana, mempercepat pembangunan,” kata Agus.
Sebelumnya, tiga ASN Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, tewas ditembak kelompok bersenjata di Distrik Muliama pada Rabu (9/9/2026).
Ketiga korban masing-masing berinisial WB (24), AR (49), dan AAM (35). AR diketahui menjabat sebagai Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Sementara WB dan AAM juga merupakan ASN di instansi tersebut.
Kepala Operasi Damai Cartenz, Irjen Faizal Ramadhani, mengatakan ketiga korban merupakan bagian dari rombongan Dinas Pertanian yang baru selesai menjalankan kegiatan di lapangan, termasuk meninjau kegiatan cetak sawah. Rombongan tersebut kemudian diserang ketika dalam perjalanan kembali.
AR dan AAM meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara WB sempat dievakuasi ke RSUD Wamena untuk mendapatkan perawatan medis sebelum akhirnya meninggal dunia.
Hasil penyelidikan awal aparat menyebut penyerangan tersebut diduga dilakukan kelompok bersenjata yang berasal dari wilayah Nduga. Dalam olah tempat kejadian perkara, aparat juga menemukan selongsong peluru kaliber 5,56 milimeter dan 9 milimeter.
Komnas HAM sebelumnya menyatakan ketiga korban merupakan pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya yang sedang menjalankan perjalanan kedinasan berkaitan dengan pelayanan di bidang pertanian dan peternakan.
Selain kasus penembakan tiga ASN tersebut, seorang sopir lajuran bernama Aris Sanda di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, juga menjadi korban kekerasan kelompok bersenjata.
Aris sebelumnya diduga disandera kelompok bersenjata pada Selasa (15/9/2026). Ia kemudian ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah mengalami penembakan.
Rangkaian kejadian tersebut menjadi bagian dari situasi keamanan di Papua yang masih ditangani aparat melalui operasi keamanan sekaligus pendekatan pembangunan dan pelayanan masyarakat.
Penyitaan delapan senjata SS1 P1 menjadi salah satu langkah aparat dalam mengurangi kemampuan kelompok bersenjata di wilayah tersebut, sementara proses penyelidikan terhadap kasus-kasus penembakan masih berlangsung.(dhil/kmps)










