Koranindopos.com – JAKARTA – Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) masih dirasakan di sejumlah wilayah hingga Selasa (8/9/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih mendeteksi sebaran abu vulkanik pada ketinggian sekitar 15.000 kaki.
Kondisi tersebut mendorong Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meminta perguruan tinggi ikut berperan dalam upaya mitigasi dan penanganan dampak erupsi.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan meminta perguruan tinggi memobilisasi tenaga ahli dari berbagai bidang untuk membantu memantau perkembangan erupsi sekaligus memberikan penanganan yang dibutuhkan masyarakat.
“Kami menghimbau kepada pimpinan perguruan tinggi untuk memobilisasi para pakar, baik pakar kesehatan, teknik, lingkungan, kebencanaan, hingga psikologi untuk terlibat aktif memantau dan menangani perkembangan erupsi ini,” ujar Fauzan dalam Konferensi Pers Update Situasi Terkini Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau yang disiarkan melalui YouTube Badan Komunikasi (Bakom), Minggu (6/9/2026).
Fauzan menilai keberadaan tenaga ahli dari perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadapi dampak bencana.
Menurut dia, para pakar tidak hanya dibutuhkan untuk memberikan analisis, tetapi juga diharapkan dapat memberikan bantuan nyata di lapangan sesuai bidang keahlian masing-masing.
“Hal-hal lain terkait penanganan akibat erupsi ini kami akan selalu koordinasi dengan para pihak termasuk pemerintah daerah setempat, sehingga apa yang kami lakukan, yang dilakukan oleh Kemendiktisaintek ini dapat terukur karena memang selalu berkoordinasi dengan para stakeholder,” katanya.
Koordinasi dengan pemerintah daerah dinilai penting agar dukungan dari perguruan tinggi dapat disesuaikan dengan kebutuhan di wilayah terdampak.
Selain mengerahkan tenaga ahli, Fauzan meminta perguruan tinggi yang berada di wilayah terdampak untuk mengaktifkan posko siaga di lingkungan masing-masing.
Posko tersebut diharapkan dapat menjadi pusat koordinasi untuk berbagai kebutuhan, baik yang berkaitan dengan sivitas akademika maupun masyarakat sekitar.
“Kemudian, kami juga menghimbau kepada seluruh pimpinan perguruan tinggi untuk mengaktifkan posko siaga di lingkungan masing-masing dan selalu berkoordinasi dengan kepala daerah setempat,” ujar Fauzan.
Ia juga meminta kampus memobilisasi bantuan yang diperlukan masyarakat maupun sivitas akademika, terutama bantuan yang berkaitan dengan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Dengan demikian, perguruan tinggi tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga dapat berkontribusi langsung dalam penanganan bencana di wilayah sekitarnya.
Fauzan menegaskan bahwa aspek kesehatan harus menjadi prioritas dalam menghadapi paparan abu vulkanik.
Kemdiktisaintek telah mengimbau perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, untuk mengambil langkah strategis guna mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi masih terdampak erupsi.
“Oleh karena itu, aktivitas layanan kantor maupun proses pembelajaran dan aktivitas akademik yang lain dapat dilakukan secara daring atau hybrid,” tambahnya.
Kebijakan tersebut memberikan fleksibilitas bagi kampus untuk menyesuaikan kegiatan akademik dengan kondisi di masing-masing wilayah.
Sejumlah perguruan tinggi di sekitar wilayah terdampak Gunung Anak Krakatau telah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Di Lampung, beberapa kampus yang menerapkan PJJ antara lain Universitas Lampung (Unila), Institut Teknologi Sumatera (Itera), Politeknik Negeri Lampung (Polinela), dan UIN Raden Intan Lampung (UIN RIL).
Sementara itu, di Banten terdapat Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang juga mengambil langkah penyesuaian kegiatan pembelajaran.
Kebijakan serupa diterapkan sejumlah perguruan tinggi di wilayah Jabodetabek, termasuk Universitas Indonesia (UI), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan IPB University.
Penerapan PJJ maupun sistem hybrid menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan terhadap abu vulkanik, sekaligus memastikan kegiatan pendidikan tetap dapat berlangsung.
Fauzan menekankan, penanganan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Perguruan tinggi dengan sumber daya ahli dan fasilitas penelitian yang dimiliki diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mitigasi, mulai dari pemantauan kondisi lingkungan, kesehatan masyarakat, kebencanaan, hingga aspek psikologis.
Melalui mobilisasi tenaga ahli, pengaktifan posko siaga, serta penyesuaian aktivitas akademik, perguruan tinggi diharapkan dapat membantu pemerintah menghadapi dampak erupsi sekaligus menjaga keselamatan sivitas akademika dan masyarakat di wilayah terdampak.(dhil/dtk)










