Koranindopos.com – JAKARTA – Gelombang demonstrasi mahasiswa yang kembali marak dalam beberapa bulan terakhir menjadi penanda bahwa ruang kritik dalam demokrasi Indonesia masih hidup. Berbagai isu mulai dari kebijakan pemerintah, program pembangunan, hingga persoalan sosial menjadi sorotan dan memicu aksi turun ke jalan. Namun, di tengah dinamika tersebut, muncul pertanyaan mendasar: mengapa masalah yang dikritik hari ini selalu berganti dengan persoalan baru di kemudian hari?
Pertanyaan itu mengarah pada refleksi yang lebih dalam mengenai akar persoalan bangsa. Kritik terhadap kebijakan dianggap penting sebagai bagian dari kehidupan demokrasi, tetapi banyak persoalan dinilai hanya diselesaikan di permukaan tanpa menyentuh sumber masalah yang sesungguhnya. Akibatnya, setelah satu persoalan mereda, persoalan lain kembali muncul dalam bentuk berbeda.
Pandangan tersebut disampaikan dalam tulisan berjudul “Saatnya Mahasiswa Kembali Membahas Arah Pembangunan Indonesia” yang dimuat Kompas.id. Dalam tulisan itu disebutkan bahwa selama ini perhatian publik, termasuk gerakan mahasiswa, sering kali lebih banyak tertuju pada gejala yang tampak, sementara struktur dan cara berpikir yang melahirkan persoalan tersebut jarang dipertanyakan secara mendalam.
Fenomena itu diibaratkan seperti mengutuk daun yang menguning tanpa memeriksa akar yang mulai membusuk. Kritik terhadap kebijakan memang diperlukan, tetapi tanpa membongkar penyebab yang mendasarinya, masalah serupa berpotensi terus berulang.
Gerakan mahasiswa pun dinilai perlu melakukan refleksi terhadap perannya. Selama ini, energi gerakan kerap terserap untuk merespons berbagai peristiwa yang sedang menjadi perhatian publik. Ketika isu mereda dan pemberitaan berganti, perhatian pun beralih ke persoalan lain. Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat gerakan mahasiswa kehilangan kemampuan untuk membaca arah perkembangan zaman dan memikirkan persoalan bangsa secara lebih mendasar.
Padahal, sejak awal mahasiswa dipandang bukan sekadar sebagai kelompok yang bereaksi terhadap peristiwa. Dengan privilese intelektual yang dimiliki, mahasiswa seharusnya mampu melihat persoalan lebih jauh dari apa yang tampak di permukaan. Tugas mahasiswa tidak hanya memahami apa yang sedang terjadi, tetapi juga mengkaji mengapa persoalan itu terjadi dan mengapa berbagai masalah serupa terus muncul dari waktu ke waktu.
Karena itu, pembahasan mengenai arah pembangunan Indonesia dinilai perlu kembali menjadi perhatian utama. Diskusi mengenai visi jangka panjang bangsa, kualitas institusi, tata kelola pemerintahan, pendidikan, hingga model pembangunan yang ingin diwujudkan menjadi hal yang tidak kalah penting dibandingkan sekadar merespons isu-isu yang bersifat sesaat.
Dengan demikian, gerakan mahasiswa diharapkan tidak hanya hadir sebagai pengkritik kebijakan, tetapi juga sebagai kekuatan intelektual yang mampu menawarkan gagasan dan arah pembangunan yang lebih berkelanjutan bagi masa depan Indonesia. Kritik tetap penting, namun pemikiran mengenai akar persoalan dan masa depan bangsa dinilai menjadi pekerjaan besar yang tidak boleh diabaikan.(dhil/kmps)










