Koranindopos.com, Jakarta – Beragam bunyi dan ketukan musik tradisional Indonesia menjadi perhatian musisi Gilang Ramadhan selama puluhan tahun berkesenian. Dari perjalanan ke sejumlah daerah, ia menemukan kekayaan ritme yang berbeda-beda, termasuk dalam wilayah yang masih berada di satu kawasan.
Pengalaman tersebut kemudian mendorong Gilang mendokumentasikan sekitar 100 ritme musik tradisional dari berbagai daerah. Catatan itu selanjutnya dikembangkan dalam bentuk digital melalui gagasan yang ia sebut Sawah Rhythm.
Bagi Gilang, dokumentasi musik tradisional memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar menyimpan catatan masa lalu. Ritme yang sudah dikumpulkan menurutnya perlu kembali digunakan agar dapat membuka kemungkinan lahirnya karya-karya baru.
“Yang saya inginkan adalah bergairah, dimainkan, diciptakan, memberikan inspirasi bagi anak-anak muda supaya bisa berkreasi dengan catatan Sawah Rhythm,” ujarnya.
Gilang mengatakan ketertarikannya pada musik perkusi membawanya menjelajahi berbagai wilayah Indonesia. Perjalanan dari Aceh hingga Papua memperlihatkan kepadanya betapa beragamnya pola ketukan yang berkembang di masyarakat.
Bahkan, perbedaan ritme tidak selalu terjadi antardaerah. Dalam pengalamannya, satu desa dengan desa lainnya di Papua dapat memiliki pola ketukan yang berbeda.
“Ribuan. Karena memang ketukan setiap daerah berbeda. Bahkan di Papua, beda desa sudah beda ketukan,” jelas Gilang.
Pengalaman Gilang tersebut menjadi bagian dari Kelas Literasi Budaya Nusantara #3: Musik Tradisional Sawah Rhythm yang digelar Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada Jumat (2/10/2026).
Kegiatan itu sekaligus menjadi bagian dari pengenalan konsep Human Library yang dikembangkan Perpusnas. Melalui konsep tersebut, seseorang dengan pengalaman dan pengetahuan tertentu dapat menjadi sumber belajar yang berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, mengatakan konsep Human Library memperluas cara perpustakaan menghadirkan pengetahuan kepada masyarakat.
“Perpustakaan Nasional tidak hanya sebagai jajaran koleksi, tetapi sebagai ruang hidup, ruang kreativitas,” ujarnya.
Menurut Suharyanto, pengalaman para pelaku seni dan budaya dapat menjadi bagian dari sumber pengetahuan yang dibagikan dan dibicarakan bersama masyarakat. Pendekatan tersebut juga memberi ruang bagi Perpusnas untuk mempertemukan masyarakat dengan para pelaku yang memiliki pengalaman langsung di bidangnya.
Dalam konteks musik tradisional, pengalaman Gilang memperlihatkan bagaimana sebuah pengetahuan yang awalnya diperoleh dari perjalanan dan interaksi di berbagai daerah dapat dicatat, didokumentasikan, kemudian dibuka kembali untuk dipelajari dan dikembangkan.
Melalui pendekatan tersebut, Perpusnas tidak hanya menghadirkan informasi mengenai kebudayaan, tetapi juga mempertemukan masyarakat dengan orang-orang yang mengalami dan mempraktikkan pengetahuan tersebut secara langsung. (BRG/Kul)










