Minggu, 18 Oktober 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Opini

Inflasi Nilai, Kenaikan Kelas Otomatis, dan Koreksi Deep Learning

Editor : Anggoro oleh Editor : Anggoro
18 Oktober 2026
in Opini
A A
0
Inflasi Nilai, Kenaikan Kelas Otomatis, dan Koreksi Deep Learning

Prof. Suyanto, Ph.D Ketua Dewan Pendidikan Nasional; Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Negeri Yogyakarta

Share on FacebookShare on Twitter

koranindopos.com – Inflasi ternyata tidak hanya terjadi pada harga barang dan jasa. Dunia pendidikan juga mengenal inflasi nilai belajar, ketika angka prestasi akademik terus meningkat tanpa selalu diikuti peningkatan kompetensi yang sepadan. Sekolah terkadang terlalu murah memberikan nilai baik, bahkan kenaikan kelas otomatis seolah menjadi keniscayaan. Akibatnya, nilai kehilangan daya pembeda antara kemampuan yang sungguh dikuasai dan yang belum dikuasai siswa.

Fenomena tersebut membahayakan masa depan generasi muda. Nilai akademik semestinya merupakan pengakuan objektif terhadap capaian belajar, bukan sekadar instrumen administratif untuk memastikan semua siswa naik kelas. Ketika angka rapor lebih mencerminkan kemurahan penilaian daripada kompetensi nyata, pendidikan sedang menciptakan ilusi keberhasilan.

Ironisnya, kenaikan kelas otomatis telah berkembang menjadi semacam mitos dalam praktik persekolahan. Padahal, Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025 tidak mengamanatkan semua siswa otomatis naik kelas. Halaman 66–68 justru memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan menentukan kenaikan kelas berdasarkan bukti capaian kompetensi, perkembangan belajar, dan pertimbangan profesional (BSKAP, 2025).

Persoalannya bukan ketiadaan panduan, melainkan kesenjangan antara norma penilaian dan praktik implementasinya. Jika kenaikan kelas berlangsung tanpa verifikasi penguasaan kompetensi minimum, sekolah berisiko memindahkan ketertinggalan belajar dari satu kelas ke kelas berikutnya. Akumulasi kesenjangan itu akhirnya semakin sulit diperbaiki.

Artikel Terkait

Skor Baru TKA untuk Membaca Kemampuan Murid Lebih Baik

Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

Zakat Sebagai Pengurang Pajak?

Fatamorgana Keberhasilan Akademik

Bank Dunia melalui World Development Report 2018 mengingatkan dunia mengenai fenomena schooling without learning. Anak-anak dapat menghabiskan bertahun-tahun di sekolah tanpa memperoleh keterampilan fundamental yang memadai. Bank Dunia menyebut pendidikan tanpa pembelajaran sebagai kehilangan kesempatan sekaligus ketidakadilan serius terhadap peserta didik (World Bank, 2018).

Inflasi nilai memperparah persoalan tersebut. Siswa merasa berhasil karena mendapatkan nilai angka tinggi, sementara kekurangan kompetensinya tidak teridentifikasi secara jujur. Ketika memasuki dunia kerja, mereka menghadapi kenyataan berbeda. Industri tidak memberikan penghargaan berdasarkan kemurahan rapor, melainkan kompetensi, produktivitas, kreativitas, dan kemampuan menyelesaikan persoalan nyata.

Ada paradoks yang patut dicermati: ketika hampir semua siswa memperoleh nilai tinggi, angka kehilangan fungsi sebagai sinyal kualitas. Sekolah tampak berhasil secara statistik, tetapi dunia kerja harus melakukan penyaringan ulang melalui tes kompetensi dan masa percobaan. Biaya ketidakjujuran penilaian akhirnya ditanggung lulusan, terutama mereka yang kurang memiliki kesempatan memperoleh pelatihan tambahan setelah meninggalkan bangku sekolah.

Lebih mengkhawatirkan lagi, kemurahan penilaian berpotensi melemahkan Adversity Quotient (AQ), yakni kemampuan menghadapi dan mengatasi kesulitan. Paul Stoltz (1997) menempatkan ketangguhan menghadapi hambatan sebagai modal penting keberhasilan. Siswa yang terbiasa memperoleh penghargaan tanpa perjuangan memadai berisiko kehilangan kesempatan mengembangkan ketekunan, disiplin, dan daya juang.

Di sinilah relevansi pepatah bangsa kita: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Pendidikan seharusnya membiasakan perjuangan intelektual yang sehat. Tantangan belajar bukan untuk menghukum siswa, melainkan membangun ketangguhan menghadapi kehidupan.

Harvard Pun Mengoreksi Inflasi Nilai

Inflasi nilai ternyata juga menjadi persoalan perguruan tinggi terkemuka dunia. Di Harvard University, proporsi nilai A meningkat dari sekitar 24 persen pada 2005 menjadi 60 persen pada 2025. Dekan Pendidikan Sarjana Harvard, Amanda Claybaugh, memperingatkan bahwa praktik penilaian demikian telah merusak budaya akademik dan melemahkan fungsi pe nilaian (Harvard University, 2026).

Pada Mei 2026, Harvard menyetujui pembatasan nilai A maksimal 20 persen peserta setiap mata kuliah ditambah empat mahasiswa, berlaku mulai 2027. Universitas bereputasi global itu menyadari bahwa kemurahan nilai dapat menghilangkan makna prestasi unggul. Predikat kehormatan, termasuk cum laude, juga harus mempertahankan kredibilitasnya.

Di Inggris, Universities UK (2024) turut mengakui persoalan inflasi klasifikasi gelar akademik dan perlunya penguatan standar. Pelajarannya jelas: lembaga pendidikan tidak boleh mengorbankan integritas akademik demi statistik keberhasilan yang tampak mengesankan.

Koreksi melalui Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran Mendalam (PM) menawarkan koreksi fundamental terhadap inflasi nilai. Dalam kerangka PM, pengalaman belajar tidak berhenti pada memahami, tetapi berlanjut pada mengaplikasi dan merefleksi. Ketiganya menghadirkan bukti autentik tentang kedalaman penguasaan kompetensi.

Siswa tidak cukup mampu mengulang informasi. Mereka harus dapat menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah, kemudian merefleksikan keberhasilan, kesulitan, dan strategi perbaikannya. Asesmen menjadi instrumen diagnosis, umpan balik, sekaligus pengakuan objektif atas kemajuan belajar.

Dengan demikian, nilai tinggi harus diperoleh melalui pembuktian, bukan belas kasihan. Namun, penilaian ketat wajib disertai pendampingan, remediasi, dan kesempatan memperbaiki penguasaan kompetensi. PM tidak menghendaki penghukuman akademik, melainkan kejujuran penilaian yang memuliakan siswa.

Atas dasar itulah, rencana Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah mengakhiri praktik kenaikan kelas otomatis sangat relevan. Siswa yang belum memenuhi kriteria minimal standar penilaian dapat diputuskan tidak naik kelas setelah memperoleh intervensi pembelajaran memadai dan penilaian objektif.

Kebijakan tersebut bukan untuk memperbanyak siswa tinggal kelas, melainkan menghentikan inflasi nilai yang menipu masa depan mereka. Pendidikan harus berani mengatakan belum berhasil ketika kompetensi memang belum tercapai. Sebab, kejujuran akademik hari ini merupakan investasi ketangguhan, kompetensi, dan daya saing generasi Indonesia pada masa depan.

 

PENULIS: Prof. Suyanto, Ph.D  (Ketua Dewan Pendidikan Nasional; Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Negeri Yogyakarta)

 

Instant win games deliver a result immediately with no spinning reels or dealt cards. Scratch cards, crash games and quick draw titles all share that structure, appealing to players who want short sessions rather than extended play at a single game.

Games That Resolve Immediately

Return percentages on instant titles often sit below those of mainstream slots, though the format makes stakes and outcomes unusually transparent. Players comparing what is available across operators can Slotlair casino and review return figures by category. Crash games in particular reward a predetermined exit point, since the decision to cash out belongs entirely to the player.

Game TypeSession Length
Scratch cardSeconds
CrashUnder a minute
Quick draw1 to 2 minutes
  • Check published return percentages before playing
  • Decide a cash out point in advance on crash titles

Because each round takes seconds, the number of rounds in a session climbs faster than most players notice. Counting rounds is therefore more useful than watching a balance. Keep the session short, which is what the format is actually designed for.

TerkaitBerita

Skor Baru TKA untuk Membaca Kemampuan Murid Lebih Baik
Opini

Skor Baru TKA untuk Membaca Kemampuan Murid Lebih Baik

oleh Editor : Anggoro
10 Oktober 2026
Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan
Opini

Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

oleh Editor : Anggoro
28 September 2026
ZAKAT DAN PAJAK: Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong pemerintah segera mengevaluasi skema integrasi zakat dan pajak yang berlaku. Mereka menilai zakat yang telah dibayarkan masyarakat melalui lembaga resmi seharusnya dapat diperhitungkan secara langsung untuk mengurangi kewajiban pajak. (Foto Ilustrasi: iStockphoto)
Opini

Zakat Sebagai Pengurang Pajak?

oleh Editor : Memoarto
22 September 2026
“Echo Chamber”, Pengganggu Pembelajaran Mendalam?
Opini

TEFA Perlu Kafah, Jangan Mualaf terhadap Deep Learning

oleh Editor : Anggoro
23 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Direkomendasikan

IHSG Terkoreksi ke Level 5.936, Mirae Asset Sarankan Investor Pilih Strategi Selektif

IHSG Terkoreksi ke Level 5.936, Mirae Asset Sarankan Investor Pilih Strategi Selektif

18 Oktober 2026
Rhoma Irama Tak Menyangka Diajak Tampil di Konser Guns N’ Roses

Rhoma Irama Tak Menyangka Diajak Tampil di Konser Guns N’ Roses

18 Oktober 2026
Adam Hijrah Travel Tetap Berangkatkan Jemaah Umrah ke Madinah di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Adam Hijrah Travel Tetap Berangkatkan Jemaah Umrah ke Madinah di Tengah Ketegangan Timur Tengah

18 Oktober 2026
FESTIVAL MUSIK: Geisha saat tampil dalam Synchronize Fest 2026 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta Pusat pada Jumat (16/10/2026). (Foto: Dedi Yondra / JPNN.com)

Para Musisi Kompak Kritik Karhutla di Synchronize Fest 2026

18 Oktober 2026

Terpopuler

  • Produk Dalam Negri

    Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    1062 shares
    Share 425 Tweet 266
  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    4992 shares
    Share 1997 Tweet 1248
  • Rekrutmen CPNS Guru Dibuka 2027–2029, Pemerintah Siapkan 464.856 Formasi

    314 shares
    Share 126 Tweet 79
  • Liverpool, Real Madrid, dan PSG Tampil Menyala di Matchday Kedua

    314 shares
    Share 126 Tweet 79
  • Emiten Haji Isam PGUN Buka Suara soal Gadai 5,3 Miliar Saham ke Bank Mandiri

    312 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya