KOTA TANGSEL, koranindopos.com – Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang menjadi salah satu ikon kota modern di tanah air tak selaras dengan kesejahteraan warganya. Hal itu tercermin dari angka kasus stunting yang cukup tinggi. Berdasar data terakhir, angkanya hampir menyentuh standar WHO, yakni 20 persen.
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, pihaknya baru saja membentuk Forum Pembina Anak Usia Dini (PAUD) Kota Tangsel. Forum tersebut merupakan organisasi masyarakat yang terdiri atas beragam elemen masyarakat. Mulai praktisi hingga akademisi.
Dengan demikian, forum itu memiliki peran yang sangat strategis. Terutama dalam memberikan wawasan, pengalaman, dan pengetahuan dalam mendidik anak.
’’Forum PAUD diharapkan ambil bagian dalam memberikan edukasi kepada orang tua, juga tumbuh kembang peserta didik. Kolaborasi dengan orang tua peserta didik harus dilakukan,’’ katanya kepada awak media di Puspemkot Tangsel, Ciputat, pada Kamis (23/6).
Pilar menyampaikan, ada juga tugas yang harus dilakukan melalui forum PAUD. Yaitu, menurunkan angka kasus stunting di Kota Tangsel. ’’Walaupun, saat ini, angka prevalensi stunting di Tangsel masih di bawah rata-rata nasional maupun provinsi. Tapi, Tangsel harus menjadi kota layak anak,’’ terang Pilar.
Karena itu, kata Pilar, pendidikan anak usia dini sangat penting. Terutama dalam pengembangan karakter, kapasitas, dan efektivitas kemampuan otak anak dengan berbagai program dan kegiatan yang akan membuat perkembangan otak anak semakin optimal.
’’Tugas kita semua untuk menjadikan Kota Tangerang Selatan menjadi layak anak. Walaupun, di dinas, ada satgas perlindungan anak. Tapi, mereka juga harus menjadi mata dan telinga akan kejadian-kejadian yang berkaitan. Termasuk bila ada kekerasan anak, segera laporkan,’’ tegas Pilar.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, berdasar data survei status gizi balita Indonesia (SSGBI), angka kasus stunting sekarang sebesar 19,9 persen dari yang sebelumnya hanya 16 persen.
’’Dari 22 ribu balita sampling dengan rumus, ditemukan 19,9 persen. Itu yang dilansir 2020. Nah, 2021 harusnya sudah survei. Tapi, karena pandemi Covid-19, jadi nggak ada. Biasanya di Mei, tapi belum juga. Data itu dilansir pada 2021. Saya pernah kasih tahu se-Banten paling rendah 16 koma, tapi justru ini naik. Maksimalnya harus 20 persen,’’ katanya.
Menurut Allin, ada dua faktor penyebab masih banyaknya kasus stunting di wilayahnya. Yakni, asupan gizi yang kurang, terutama protein, dan pola asuh yang kurang tepat.
’’Faktor penyebab 80 persen karena mereka kurang asupan, ya. Tapi, 20 persen soal pola asuh. Jadi, pola asuh dalam artian kita sering dengar ASI eksklusif ini yang mesti digencarkan. Jadi, mungkin ada pola makan yang salah dari awal. Banyak yang diasuh bukan oleh ibu. Jadi, terjadi ketidakseimbangan antara tinggi badan dan umur,’’ terangnya. (bnk/mmr)










