Koranindopos.com, Jakarta – Dini hari di Bojonegoro biasanya masih diselimuti sunyi, namun bagi Jeni Adilasari, pukul tiga adalah tanda dimulainya perjuangan. Sejak masih duduk di bangku SMP, jemari kecilnya sudah cekatan membantu sang ibu membungkus nasi untuk dijual. Sebagian nasi tersebut dititipkan ke warung, sementara sisanya ia bawa ke sekolah untuk ditawarkan kepada teman-temannya demi menyambung hidup keluarga.
Perjalanan hidup Jeni tidaklah mudah, karena keadaan ekonomi memaksanya dewasa lebih cepat daripada anak-anak seusianya. Suatu sore saat pulang sekolah, ia mendapati rumahnya kosong dan bertanya kepada tetangga mengenai keberadaan ibunya.
Jawaban yang ia terima cukup unik, yaitu ibunya sedang “sekolah” di Mekaar, sebuah istilah lokal untuk Pertemuan Kelompok Mingguan (PKM) bagi para nasabah PNM Mekaar.
Istilah “sekolah” tersebut ternyata menjadi titik balik bagi cara pandang Jeni terhadap perjuangan orang tuanya. Di ruang belajar informal itulah, para ibu rumah tangga di lingkungannya berkumpul untuk belajar mengelola usaha, mengatur keuangan, dan memupuk harapan baru. Jeni menyadari bahwa lewat program inilah sang ibu mendapatkan modal usaha dan bimbingan untuk memberikan kehidupan yang lebih layak bagi anak-anaknya.

Melihat kegigihan ibunya, tumbuh sebuah tekad kuat di dalam hati Jeni untuk ikut berkontribusi dalam gerakan pemberdayaan perempuan tersebut. Ia merasa memiliki ikatan emosional dengan program yang telah menyelamatkan ekonomi keluarganya. Keinginan untuk berdiri sejajar dengan para perempuan tangguh itu pun menjadi kompas yang mengarahkan masa depan Jeni setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya.
“Sejak itu saya punya tekad. Kalau ibu-ibu seperti ibu saya saja mau belajar dan berani bermimpi, saya ingin suatu hari bisa berdiri di samping mereka,” kenang Jeni melalui siaran persnya.
Tanpa ragu sedikit pun, setelah lulus SMA, Jeni langsung mendaftarkan diri sebagai Account Officer (AO) di PNM Mekaar. Keputusannya ini didasari oleh rasa syukur karena ia ingin membalas budi kepada program yang telah membantu ibunya tumbuh. Menjadi AO baginya bukan sekadar profesi mencari nafkah, melainkan sebuah misi untuk mendampingi ibu-ibu lain agar memiliki nasib yang lebih baik.
Lima tahun mengabdi sebagai garda terdepan pendamping nasabah, Jeni mengalami transformasi pribadi yang sangat luar biasa. Tugas mendampingi para ibu dalam mengelola modal usaha justru mematangkan mental dan kemampuannya dalam memimpin. Ia mulai mampu menjadi tumpuan bagi adik-adiknya dan perlahan mencoret daftar impian yang dahulu dianggap mustahil untuk dicapai oleh seorang penjual nasi bungkus.
Puncak dari dedikasinya terjadi pada Januari 2026, ketika kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil yang sangat mengharukan. Melalui program Employee Reward PNM, Jeni terpilih sebagai salah satu karyawan berprestasi yang mendapatkan kesempatan umrah gratis. Hadiah perjalanan ibadah ke Tanah Suci ini menjadi bukti nyata bahwa ketulusan dalam bekerja akan selalu membuahkan hasil yang manis pada waktunya.
“Dari dulu saya selalu percaya, kalau kita menanam niat baik hal-hal baik semesta akan menemukan jalannya sendiri. Tugas kita cuma satu, konsisten berbuat baik walau perlahan,” tambahnya.
Kini, setiap kali memimpin pertemuan mingguan dengan para nasabah, Jeni seolah sedang melihat refleksi masa kecilnya sendiri. Ia melihat wajah-wajah penuh harap dari para ibu yang sedang berjuang demi masa depan anak-anak mereka, persis seperti yang dilakukan ibunya dulu. Jeni kini berperan sebagai jembatan yang menghubungkan mimpi-mimpi kecil tersebut dengan akses permodalan dan bimbingan yang nyata. (Ris/Hend)










