Jumat, 16 Oktober 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Opini

Demokratisasi Dalam Budaya Antikorupsi di Birokrasi

Editor : Hanasa oleh Editor : Hanasa
3 November 2021
in Opini
A A
0
Demokratisasi Dalam Budaya Antikorupsi di Birokrasi
Share on FacebookShare on Twitter
Berani jujur Hebat - Demokratisasi Dalam Budaya Antikorupsi di Birokrasi

Oleh Mutia Rizal, Analis Post-birokrasi & Executive Editor di Birokratmenulis.org

koranindopos.com – Untuk lebih memahami budaya agar mampu berperan dalam lingkungan sosial di sebuah komunitas, terlebih dahulu perlu mengetahui apa itu sistem sosial sebagai tempat berlangsungnya sebuah budaya. Sistem sosial terdiri dari berbagai pemaknaan dan tujuan, bentukan struktur, dan proses yang berkembang menjadi budaya.

Artikel Terkait

Skor Baru TKA untuk Membaca Kemampuan Murid Lebih Baik

Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

Zakat Sebagai Pengurang Pajak?

Sistem sosial dapat menjelaskan budaya dari komunikasi yang terjalin dalam relasi sosialnya. Dalam komunikasi tersebut terdapat pemaknaan atas simbol-simbol budaya yang kemudian bermuara pada tindakan individu. Dapat dikatakan bahwa untuk memahami budaya dalam sistem sosial, kuncinya ada pada interaksi komunikasi.

Membentuk Budaya

Dikatakan Jan Pfiester, seorang ahli manajemen pengendalian organisasi, bahwa dalam sebuah komunitas, termasuk di komunitas birokrasi, komunikasi dapat ditangkap dan juga dibangun melalui berbagai batasan tujuan (purpose boundaries). Batasan tujuan itu dapat menjelma dalam berbagai pernyataan, mulai dari visi-misi organisasi, sampai dengan bahasa yang digunakan sehari-hari. Dapat dikatakan, batasan tujuan adalah batasan apa yang ada di dalam dan di luar budaya di sebuah komunitas. Terkadang batasan tujuan tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat ditangkap dari berbagai interaksi komunikasi anggota komunitas.

Purpose boundaries terdiri dari dua macam, yaitu tertutup (closed) dan terbuka (open). Mekanisme tertutup dan terbuka ini dapat diibaratkan sebagai sebuah pintu rumah. Jika pintu tertutup, maka rumah tidak dapat dimasuki. Begitu juga sebaliknya.

Batasan tertutup dapat didefinisikan sebagai suatu batasan yang membuat perilaku tertentu tidak diterima dalam suatu budaya di lingkungan sosial tertentu. Adapun batasan terbuka, didefinisikan sebagai sebuah batasan yang menerima pengaruh dari luar komunitas yang dapat mempengaruhi budaya intern. Pengaruh tersebut dapat memungkinkan adanya adaptasi lingkungan ekstern ataupun sekadar mendialogkan budaya intern dengan lingkungan ekstern.

Faktor utama penguat batasan yang bersifat tertutup adalah pemimpin komu-nitas (organisasi). Pimpinan dapat memberikan berbagai arahan organisasi. Semakin jelas arahan atau larangan, maka akan semakin kuat batasannya. Terhadap larangan tersebut, budaya sebuah organisasi telah mulai didefinisikan. Lingkungan ekstern tidak lagi mendapat tempat untuk mempengaruhi budaya yang sudah ditetapkan pimpinan. Mekanisme, prosedur, bahkan penghargaan dan hukuman telah terdefinisikan dengan jelas secara intern dan menjadi sebuah praktik hidup dalam organisasi.

Adapun dalam batasan yang bersifat terbuka (open boundaries), lingkungan lebih demokratis karena budaya yang ada dalam komunitas dapat dipengaruhi bahkan dievaluasi dengan berbagai pengaruh dari lingkungan ekstern. Dalam hal ini, budaya tidak hanya ditentukan oleh pimpinan, te-tapi lebih dipengaruhi oleh interaksi antara lingkungan internal dan eksternal. Pemimpin memiliki peran untuk mengondisikan suasana demokratis dalam memperdebat-kan kembali secara konstruktif berbagai nilai-nilai atau norma yang telah berlaku di komunitas. Artinya batasan tertutup dapat ‘didobrak’ dengan adanya batasan terbukaini. Adapun jika pemimpin tidak mengondisikan suasana demokratis, maka para anggota komunitas sejatinya dapat menyalurkannya dengan sesama anggota komunitas lainnya.

Bagaimana Sebaiknya?

Dalam hal budaya antikorupsi di sebuah institusi, sebaiknya budaya dibangun melalui dua batasan tersebut, baik terbuka maupun tertutup. Institusi birokrasi saat ini cenderung membentuk budaya hanya secara tertutup, melalui rasionalitas mo-dern birokrasi dan cenderung menolak budaya luar organisasi, sebagai misal budaya setempat (lokal), yang sebenarnya lebih mengutamakan sikap-sikap etis. Budaya antikorupsi yang dikembangkan dalam suasana tertutup biasanya mengandalkan berbagai aturan, kode etik, dan standar prosedur dengan jargon profesionalitas dan integritas. Berbagai aturan dan ketentuan juga biasanya diawasi oleh pimpinan atau satuan tugas yang disertai dengan sanksi yang tegas. Pembentukan budaya antikorupsi yang demikian sebenarnya sebuah bentukan budaya yang eliteis yang dapat terjerumus pada istilah ‘tajam ke bawah, tumpul ke atas’.

Apalagi, budaya patronase masih saja terlihat dominan di birokrasi. Budaya tersebut terbukti menciptakan kesenjangan kekuasaan yang cukup lebar antara patron(atasan) dengan client ( bawahan). Client tidak dapat leluasa mengingatkan atau melawan patron yang diketahui melakukan tindakan penyimpangan. Perilaku birokrat (client) yang ingin mempraktikkan integritasnya, seringkali tidak didukung secara kultural oleh lingkungan. Hal itu terbukti dengan adanya slogan yang diinisiasi oleh KPK, yang berbunyi “Berani Jujur Hebat!” untuk jujur dan berintegritas saja memer-lukan keberanian, hal itu mengisyaratkan bahwa budaya patronase masih sangat kuat di birokrasi.

Pembentukan budaya korupsi seyog-yanya memperhatikan hal tersebut, dan mengatasinya melalui batasan terbuka. Dalam batasan yang bersifat terbuka, budaya antikorupsi di organisasi tidak lagi bersifat eliteis atau tergantung pada pimpinan. Beruntung bagi institusi yang pimpinan-nya bersikap lebih demokratis, sehingga memungkinkan terjadinya dialog dan menemukan konsensus bersama tentang simbol-simbol yang perlu dibangun untuk membentuk budaya antikorupsi. Namun, malang bagi institusi yang pimpinannya belum memahami hal itu dan cenderung ‘lebih nyaman’ dengan suasana tertutup, budaya antikorupsi tidak mampu berkembang secara alami.

Dalam kondisi demikian, sebenarnya anggota komunitas, yakni para birokrat, da-pat berjuang membentuk budaya antikorupsi tanpa tergantung pimpinan. Para birokrat dapat juga mengambil nilai-nilai budaya lokal yang kemudian disepakati bersama dan dikembangkan bersama. Pengembangan ter-sebut dapat dimulai oleh sekelompok kecil birokrat, dengan terlebih dulu membangun konsensus di antara sesama birokrat. Kon-sesnsus tersebut diperlukan, selain untuk membangun kesepakatan juga berguna sebagai modal sosial para birokrat, yakni semacam people power untuk ‘melawan’ siapa saja, termasuk pimpinan, yang melakukan tindakan menyimpang. Pengembangan budaya ini tentu saja perlu melibatkan peran para tokoh-tokoh informal di organisasi, yang biasanya bukan pimpinan tetapi disegani oleh para birokrat.

Bentuk-bentuk simbol budaya yang dapat dikembangkan misalnya, aktivasi nilai yang telah menjadi diskursus di masyarakat lokal tentang integritas dan profesionalitas. Di Jawa, misalnya, diskursus becik ketitik ala ketara, sepi ing pamrih rame ing gawe, dan juga ora ngoyo, perlu dibangun dan dikomunikasikan ke dalam interaksi komunikasi sehari-hari. Bahkan, jika perlu digaungkan sebuah slogan yang bersifat mengingatkan pimpinan agar selalu menjaga integritasnya. Misalnya sebuah slogan yang berbunyi, “Kami bangga jika pimpinan kami tidak korupsi”. Slogan tersebut dapat dipampang di lobi utama kantor dan juga di pintu masuk ruang pimpinan. Terkadang tidak mudah hanya untuk memasang slogan tersebut, karena dikhawatirkan pimpinan akan merasa tersinggung dan seolah tidak dipercaya. Namun, hal itu dapat ditempuh dengan cara menjelaskan kepada pimpinan secara elegan yang dilakukan oleh para tokoh infor-mal institusi yang mengatasnamakan seluruh anggota institusi.

Jika cara tersebut dapat dilakukan, sebuah institusi akan membuktikan diri-nya bahwa budaya antikorupsi tidak ha-nya bersifat tertutup dan eliteis. Dengan demikian, budaya antikorupsi dapat ber-kembang nyaman dan alami, karena tidak eliteis dan lebih demokratis. Slogan ‘Berani Jujur Hebat!’ mungkin lambat laun akan berganti menjadi ‘Kami Tidak Takut Untuk Jujur!’

Instant win games deliver a result immediately with no spinning reels or dealt cards. Scratch cards, crash games and quick draw titles all share that structure, appealing to players who want short sessions rather than extended play at a single game.

Games That Resolve Immediately

Return percentages on instant titles often sit below those of mainstream slots, though the format makes stakes and outcomes unusually transparent. Players comparing what is available across operators can Slotlair casino and review return figures by category. Crash games in particular reward a predetermined exit point, since the decision to cash out belongs entirely to the player.

Game TypeSession Length
Scratch cardSeconds
CrashUnder a minute
Quick draw1 to 2 minutes
  • Check published return percentages before playing
  • Decide a cash out point in advance on crash titles

Because each round takes seconds, the number of rounds in a session climbs faster than most players notice. Counting rounds is therefore more useful than watching a balance. Keep the session short, which is what the format is actually designed for.

Topik: KPK

TerkaitBerita

Skor Baru TKA untuk Membaca Kemampuan Murid Lebih Baik
Opini

Skor Baru TKA untuk Membaca Kemampuan Murid Lebih Baik

oleh Editor : Anggoro
10 Oktober 2026
Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan
Opini

Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

oleh Editor : Anggoro
28 September 2026
ZAKAT DAN PAJAK: Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong pemerintah segera mengevaluasi skema integrasi zakat dan pajak yang berlaku. Mereka menilai zakat yang telah dibayarkan masyarakat melalui lembaga resmi seharusnya dapat diperhitungkan secara langsung untuk mengurangi kewajiban pajak. (Foto Ilustrasi: iStockphoto)
Opini

Zakat Sebagai Pengurang Pajak?

oleh Editor : Memoarto
22 September 2026
“Echo Chamber”, Pengganggu Pembelajaran Mendalam?
Opini

TEFA Perlu Kafah, Jangan Mualaf terhadap Deep Learning

oleh Editor : Anggoro
23 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Direkomendasikan

Jakarta Kulminasi Satu Hari Tanpa Bayangan

Jakarta Kulminasi Satu Hari Tanpa Bayangan

16 Oktober 2026
Percepat Adopsi EV di Indonesia, Utomo Charge+ dan BYD Hadirkan Teknologi Flash Charging 1.500 kW

Percepat Adopsi EV di Indonesia, Utomo Charge+ dan BYD Hadirkan Teknologi Flash Charging 1.500 kW

16 Oktober 2026
Kejanggalan Berkas Perkara dr. Richard Lee, Mantan Hakim Agung Pasang Badan Jadi Penjamin

Kejanggalan Berkas Perkara dr. Richard Lee, Mantan Hakim Agung Pasang Badan Jadi Penjamin

16 Oktober 2026
Singapura Dikepung Kabut Asap: Kualitas Udara Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat, Warga Berburu Masker N95

Singapura Dikepung Kabut Asap: Kualitas Udara Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat, Warga Berburu Masker N95

16 Oktober 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    4992 shares
    Share 1997 Tweet 1248
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    1054 shares
    Share 422 Tweet 264
  • Liverpool, Real Madrid, dan PSG Tampil Menyala di Matchday Kedua

    314 shares
    Share 126 Tweet 79
  • Rekrutmen CPNS Guru Dibuka 2027–2029, Pemerintah Siapkan 464.856 Formasi

    313 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Emiten Haji Isam PGUN Buka Suara soal Gadai 5,3 Miliar Saham ke Bank Mandiri

    312 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya