Salah satunya adalah munculnya komentar negatif dari sejumlah pihak yang mempertanyakan alasan mereka melakukan kegiatan tersebut. Ada pula anggapan bahwa memperbaiki fasilitas umum bukan merupakan tugas mereka.
Salah satu anggota Generasi Burgeract, Geraldi Weimy (24), mengatakan komentar negatif merupakan hal yang tidak dapat sepenuhnya dihindari. Kendati demikian, hal tersebut tidak membuat mereka mengurungkan niat untuk terus melakukan kegiatan sosial.
“Untuk komentar negatif pasti ada aja, tapi balik lagi ke tujuan utama. Selagi apa yang kita lakukan tidak merugikan dan masih melakukan hal yang positif, komentar negatif atau haters bukan menjadi masalah utama yang membuat kita untuk berhenti,” ujar Geraldi kepada Kompas.com, Kamis (13/8/2026).
Di tengah komentar negatif, dukungan masyarakat justru menjadi energi tambahan bagi Generasi Burgeract untuk melanjutkan aksi mereka.
Menurut Geraldi, dukungan tersebut tidak hanya diberikan dalam bentuk ucapan atau apresiasi. Sejumlah warga bahkan bersedia ikut turun langsung ketika proses perbaikan dilakukan.
Artikel Terkait
“Banyak orang dan warga yang support bahkan sampai ada yang mau ikut langsung pada saat kita eksekusi,” katanya.
Keterlibatan warga tersebut membuat para anggota Generasi Burgeract merasa kegiatan yang mereka lakukan memang memberikan manfaat secara langsung bagi lingkungan sekitar.
Meski demikian, Geraldi berharap dukungan terhadap gerakan sosial tersebut tidak berhenti pada apresiasi. Ia juga ingin pemerintah daerah turut mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan berbagai persoalan fasilitas publik.
“Kami lebih senang jika pemerintah setempat mengapresiasi juga dengan cara membenahi permasalahan yang ada,” ujarnya.
Selain menghadapi komentar negatif, Generasi Burgeract juga harus berhadapan dengan keterbatasan peralatan ketika menjalankan aksi di lapangan.
Geraldi menyebut perlengkapan yang belum memadai menjadi salah satu kendala yang perlu mereka perhatikan. Faktor keselamatan juga menjadi pertimbangan, terutama ketika kegiatan dilakukan di lokasi yang memiliki risiko terhadap para anggota.
“Sejauh ini untuk kendala seperti alat perlengkapan yang mungkin belum memadai, faktor keselamatan, dan kekhawatiran keluarga pada saat kami bekerja,” kata Geraldi.
Kondisi tersebut membuat setiap kegiatan perlu dipersiapkan dengan matang agar aksi sosial yang dilakukan tidak justru menimbulkan risiko bagi para anggota.
Tantangan lainnya datang dari persoalan waktu. Para anggota Generasi Burgeract bukan hanya menjalankan kegiatan sosial, tetapi juga memiliki pekerjaan, keluarga, serta aktivitas pribadi masing-masing.
Karena itu, kegiatan sosial harus disesuaikan dengan kesibukan para anggota. Bahkan, beberapa keperluan pribadi terkadang harus dikesampingkan agar aksi tetap dapat terlaksana.
“Untuk masalah waktu, pasti ada beberapa keperluan pribadi yang memang kita harus kesampingkan, dan kami selalu bikin jadwal H-7,” ujar Geraldi.
Dengan membuat jadwal sejak beberapa hari sebelumnya, para anggota dapat mengatur waktu dan memastikan jumlah personel yang dibutuhkan tersedia ketika kegiatan berlangsung.
Bagi Generasi Burgeract, aksi memperbaiki jalan rusak maupun membersihkan fasilitas publik bukan dimaksudkan untuk mengambil alih kewajiban pemerintah. Gerakan tersebut lebih menjadi bentuk kepedulian anak muda terhadap kondisi lingkungan di sekitar mereka.
Komentar mengenai apakah kegiatan tersebut merupakan tugas mereka pun tidak menjadi alasan untuk berhenti.
Mereka memilih tetap bergerak selama kegiatan yang dilakukan bersifat positif, tidak merugikan pihak lain, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Gerakan seperti Generasi Burgeract sekaligus menunjukkan bahwa kepedulian terhadap fasilitas publik dapat tumbuh dari masyarakat. Namun, dukungan warga dan komunitas diharapkan tetap berjalan beriringan dengan tanggung jawab pemerintah untuk memastikan fasilitas umum berada dalam kondisi aman dan layak digunakan.(dhil/kmps)










