Oleh : M. Arif Efendi (Pranata Humas, Biro Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik, Kemenag)
koranindopos.com – Seiring perkembangan peradaban manusia sejak zaman Rasulullah Saw hingga sekarang, konsep kepemimpinan telah jauh berevolusi. Kolaborasi antar manusia berdasarkan aspek kepemimpinan sudah terbentuk sejak masa lampau. Dalam buku ‘Are You An Enterpreneur’ karya Rodney Overton, dijelaskan bahwa kepemimpinan merupakan keterampilan untuk memperoleh kepercayaan dan kerja sama antar sesama dengan setiap pemimpin yang memiliki keunikan tersendiri.
Prabowo Subianto, Presiden RI, penulis sebut sebagai pemimpin bangsa saat ini. Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengulas kepemimpinannya secara khusus. Namun, ingin menelisik sedikit, ketika pemimpin bangsa ini mengumpulkan pimpinan Perguruan Tinggi di Istana Negara pada 15 Januari 2026.
Para Guru Besar (Gubes) dikumpulkan, bukan sekadar mendengarkan pidato seremonial seorang pemimpin bangsa, melainkan menjadi wahana interpelasi moral dan intelektual elit akademik bangsa. Di hadapan ‘the brains of the country’, Prabowo Subianto tidak sedang memuji pencapaian gelar dan jabatan mereka, melainkan menggugat fungsi, orientasi, dan kebermaknaan elit intelektual dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut penulis, apa yang dilakukan Probowo Subianto, menjadi praktik dari teori kepemimpinan situasional yang dikembangkan oleh Kenneth Blanchard dan Paul Hersey (1980-an). Terori ini mengusulkan bahwa seorang pemimpin harus menyesuaikan gaya kepemimpinannya berdasarkan tingkat kompetensi dan komitmen bawahan atau pengikutnya. Teori ini juga dikenal sebagai model kepemimpinan adaptif yang menekankan pada kemampuan seorang pemimpin untuk beradaptasi dengan situasi yang berubah-ubah.
Pasti ada keinginan dalam pikiran Prabowo Subianto saat mengumpulkan para Gubes Perguruan Tinggi ini. Sebagaimana yang dijelaskan Harsey dan Blanchard bahwa kepemimpinan sebagai proses memengaruhi individu atau kelompok untuk mencapai tujuan dalam kondisi tertentu.
Dalam konteks Islam, kepemimpinan di bidang pendidikan memiliki peran sentral dalam meningkatkan mutu dan prestasi. Seorang pemimpin di lembaga pendidikan Islam diharapkan bisa mencapai prestasi, semisal dengan menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan sebagaimana yang diperlihatkan oleh Rasulullah Saw yang juga dikenal sebagai ‘going back to basic’.
Mengulas lebih jauh lagi, pada masa Rasulullah Saw, konsep ‘ilmuwan’ dalam pengertian modern (spesialis sains murni) belum terbentuk. Namun yang ada hanyalah para sahabat Nabi yang didorong untuk menuntut segala bentuk ilmu (baik agama maupun keterampilan praktis) dan menerapkan pengetahuan tersebut untuk membangun masyarakat dan negara Madinah yang baru berdiri saat itu.
Menyimak pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang jenderal yang korup sebagai ‘kriminal’ adalah penegasan etika tanpa kompromi. Sikap ini menuntut resonansi dari dunia akademik. Guru besar tidak boleh netral terhadap ketidakadilan struktural. Netralitas dalam situasi timpang sering kali adalah bentuk keberpihakan terselubung terhadap status quo. Perguruan Tinggi harus berani melahirkan intelektual publik, bukan hanya akademisi administratif. Ilmu harus menjadi cahaya yang mengganggu ketidakadilan, bukan nyaman sebagai alat legitimasi bagi kekuasaan tanpa kontrol.
Bangsa Indonesia yang besar ini sejatinya tidak kekurangan orang pintar, akan tetapi kekurangan keberanian moral, kepedulian sosial, dan komitmen kebangsaan. Guru besar dan pimpinan perguruan tinggi diharapkan bisa turun dari menara gading, bukan meninggalkan dunia akademis, tetapi menghidupkannya di tengah persoalan bangsa. Ilmu yang tidak membela kehidupan hanyalah kecerdasan yang sia-sia, dan elit yang tercerahkan adalah mereka yang menjadikan pengetahuan sebagai jalan pengabdian.
Para pemimpin Perguruan Tinggi selaiknya bisa berperan sebagai ‘ilmuwan’ seperti di masa Rasulullah Saw yang terwujud melalui para sahabat. Mereka berwawasan luas, berakhlak mulia, menggunakan kecerdasan, pengetahuan, dan keterampilan praktis mereka atas dasar bimbingan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, untuk membangun fondasi peradaban yang kokoh, adil, berilmu, yang kemudian mencapai puncak kejayaannya pada masa Dinasti Abbasiyah dan seterusnya.
Wallau’alam bisshowab.
–










