Koranindopos.com, Jakarta — Upaya menumbuhkan kebiasaan membaca pada anak usia dini terus dikembangkan melalui berbagai pendekatan. Salah satu metode yang kembali diperkenalkan adalah membaca nyaring, yakni kegiatan membacakan buku secara langsung kepada anak dengan melibatkan interaksi cerita, suara, dan imajinasi.
Pendekatan tersebut disampaikan dalam kegiatan peringatan Hari Membaca Nyaring Sedunia 2026 yang digelar di Jakarta. Anak-anak taman kanak-kanak bersama guru dan orang tua mengikuti rangkaian aktivitas literasi yang dirancang untuk memperkenalkan buku sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari yang menyenangkan.
Kegiatan berlangsung di ruang layanan anak sebuah perpustakaan nasional dan melibatkan komunitas literasi Reading Bugs. Kolaborasi ini menghadirkan suasana belajar yang interaktif, sekaligus menunjukkan pentingnya peran bersama antara keluarga, sekolah, dan komunitas dalam membentuk kebiasaan membaca sejak dini.
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto, menjelaskan bahwa membaca nyaring telah digunakan secara konsisten dalam program literasi anak sejak beberapa tahun terakhir. Menurutnya, metode ini membantu anak mengenal buku tanpa tekanan akademik.
“Anak tidak langsung dituntut bisa membaca. Mereka diajak menikmati cerita dan mengenal buku sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Suharyanto.
Ia menilai, kebiasaan membaca perlu dibangun secara bertahap. Lingkungan keluarga menjadi titik awal, kemudian diperkuat di sekolah dan didukung oleh fasilitas perpustakaan sebagai ruang belajar terbuka bagi semua usia.

Selain memperkenalkan cerita, membaca nyaring juga berkontribusi pada perkembangan bahasa dan komunikasi anak. Melalui kegiatan ini, anak belajar menyimak, mengenali kosakata, serta mengekspresikan pendapat dengan cara sederhana.
“Membaca nyaring membantu anak mengembangkan imajinasi dan keberanian berbicara. Proses ini penting dalam membangun dasar pembelajaran mereka,” lanjutnya.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak mengikuti sesi membaca nyaring, permainan edukatif berbasis cerita, serta aktivitas kreatif yang mendorong partisipasi aktif. Di sisi lain, guru dan orang tua mendapatkan pembekalan singkat mengenai teknik membaca nyaring agar dapat diterapkan secara konsisten di rumah maupun di sekolah.
Selain kegiatan tematik, layanan literasi anak juga dijalankan secara berkala melalui kelas dan program membaca bersama yang melibatkan anak serta keluarga.
Program ini menjadi ruang interaksi yang memperkuat keterlibatan orang tua dalam proses belajar anak.
Melalui pendekatan membaca nyaring, diharapkan kegiatan membaca tidak lagi dipandang sebagai kewajiban, melainkan sebagai kebiasaan yang tumbuh secara alami sejak usia dini dan berlanjut hingga anak memasuki jenjang pendidikan berikutnya.(Brg/Kul)










