
JAKARTA, koranindopos.com – Kekerasan seksual terhadap perempuan kembali menjadi perhatian serius akhir-akhir ini. Penyebabnya karena ulah oknum pengasuh pesantren di Bandung yang mencabuli beberapa santrinya. Karena itu, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Abdul Halim Iskandar mendorong agar setiap desa di Indonesia menerbitkan peraturan desa (perdes) pencegahan kekerasan seksual.
Menurut Abdul Halim Iskandar, pencegahan tindak kekerasan seksual harus dimulai dari desa. Karena itu, terbitnya perdes pencegahan kekerasan seksual akan memberikan perlindungan optimal bagi warga desa. Perdes juga akan memberikan ruang selebar-lebarnya kepada pemerintah desa dalam melakukan intervensi terhadap kejahatan seksual. “Sehingga ada kebijakan antisipatif dan represif kepada pelaku, dan kebijakan rehabilitatif bagi korban,” ujar Abdul Halim seperti dikutip dari website resmi Kementerian Desa PDTT, Kamis (6/1).
Pria yang akrab disapa Gus Halim itu menjelaskan, pencegahan kekerasan seksual melalui perdes harus memperhatikan adat dan kearifan lokal di masing-masing desa. Terlebih, bentuk kekerasan seksual yang dilakukan para pelaku semakin beragam bentuk dan modusnya. Pelaku bahkan tidak jarang merupakan orang dekat yang sejatinya harus melindungi korban. “Jadi kekerasan seksual tidak hanya dari jumlah kasus, namun juga jenisnya yang semakin beragam,” tutur dia.
Dari kasus yang terjadi, lanjut Gus Halim, beberapa di antaranya malah disembunyikan oleh pihak keluarga korban. Termasuk tidak dilaporkan kepada pihak berwajib. Sebab kasus tersebut dianggap sebagai aib yang harus ditutup ke khalayak umum. Kondisi tersebut akan membuat kasus serupa akan terjadi kembali karena tidak ada efek jera bagi pelaku. “Masalah kekerasan seksual seperti ini, terutama yang korbannya perempuan, bagaikan fenomena gunung es,” kata Gus Halim.
Menteri dari PKB itu mengingatkan seluruh aparatur pemerintahan di tingkat desa untuk serius dengan dorongan penerbitan perdes tersebut. Perdes tersebut juga harus melibatkan peran masyarakat dan keluarga. “Strategi yang dilakukan harus berjalan secara holistik dan komprehensif,” ujar dia. Gus Halim mengingatkan agar seluruh desa di tanah air memuliakan keberadaan perempuan sebagai mahkluk yang melahirkan generasi terbaik bangsa.(hai)









