koranindopos.com – Hari ini, Kamis, 9 Dzul Hijjah (5 Juni 2025), seluruh jemaah haji di tanah suci sedang melaksanakan wukuf di padang Arafah. Jamaah haji dari seluruh belahan dunia yang jumlahnya sekitar 2 juta tumpah ruah di tempat yang sama, dengan mengenakan pakaian ihram yang sama, tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin, yang berkulit putih atau berwarna, laki-laki atau perempuan berkumpul di Padang Arafah guna melaksanakan inti ibadah haji yaitu wukuf.
“الحَجُّ عَرَفَةُ” Haji itu (adalah) Arafah, demikian bunyi sebuah hadis yang sangat populer yang bersumber dari sahabat Abdurrahman ibn Ya’mar (Sunan at-Tirmidzi hadis nomor 889). Atas dasar hadis ini, mayoritas ulama fiqh (dari empat madzhab) berpendapat bahwa tidak sah orang berhaji yang tidak melakukan wukuf di Arafah. Adapun waktu wukuf, sebagaimana termaktub di dalam lanjutan teks hadis di atas yaitu sejak masuk waktu zhuhur tanggal 9 Dzul Hijjah sampai dengan sebelum terbit fajar tanggal 10 Dzul Hijjah.
Wukuf berarti berhenti, berdiam diri. Wukuf di Arafah berarti melaksanakan salah satu rukun dalam ibadah haji dimana jamaah pada tanggal 9 Dzul Hijjah bekumpul di padang Arafah dengan mengenakan pakaian Ihram. Dalam momen ini jamaah hendaknya melakukan refleksi diri dengan memperbanyak istighfar, tafakkur, dzikir, dan membaca al-Qur’an atau kalimah thayyibah yang disanggupi.
Haji Merangkum Seluruh Ibadah
Dalam sebuah hadis yang sangat populer dijelaskan bahwa Islam itu dibangun di atas 5 (lima) pilar (rukun). Yaitu: 1. bersyahadat, 2. menegakkan sholat, 3. berzakat, 4. berpuasa, dan 5. berhaji bagi yang mampu. Berhaji menjadi pilar kelima dalam ber-Islam. Hal ini karena ibadah haji merangkum keseluruhan empat pilar lainnya.
Dilihat dari dimensinya, ibadah mahdlah dapat diklasifikasikan ke dalam: rûhâniyah (spiritual), jasmâniyah (fisik), dan mâliyah (harta/benda). Sedangkan dalam pelaksanaannya, ibadah itu ada yang berupa perbuatan (fi’liyah), ucapan (qauliyah) atau gabungan perbuatan dan ucapan. Perlu ditegaskan bahwa setiap ibadah memiliki dimensi rûhâniyah karena dilaksanakan di atas pondasi iman.
Syahadat merupakan ibadah ruhaniyah. Sholat itu ibadah ruhaniyah sekaligus jasmaniyah. Zakat adalah ibadah ruhaniyah dan mâliyah. Berpuasa merupakan ibadah ruhaniyah dan jasmaniyah. Berhaji menjadi satu-satunya ibadah mahdlah yang melibatkan dimensi ruhaniyah, jasmaniyah, dan maliyah (harta benda) yang dilaksanakan dalam bentuk perbuatan dan ucapan.
Sifatnya yang merangkum seluruh ibadah mahdlah, berhaji menjadi ibadah yang paling berat sekaligus sebagai pemuncak dari seluruh ibadah. Oleh karena itu, berhaji hanya diwajibkan sekali seumur hidup dengan syarat yang sangat ketat. Syaratnya yaitu istitha’ah atau kemampuan baik kemampuan fisik, finansial, maupun keamanan dan keselamatan individu dan /atau kolektif).
Kesehatan jasmani sangat dibutuhkan mengingat ibadah haji merupakan ibadah yang durasinya cukup lama, mobilitas dari satu lokus ke lokus lainnya yang berjauhan, serta intensitas berada dalam kerumunan sangat tinggi.
Kemampuan finansial disyaratkan untuk membiayai perjalanannya sampai ke tanah suci, bekal hidup selama di sana serta kembali ke kampung halaman agar tidak menyiksa diri. Keamanan dan keselamatan menjadi faktor penting istitha’ah. Parameternya ditentukan oleh pemilik otoritas baik oleh negara asal, negara tujuan, atau keduanya. Contoh yang masih segar dalam ingatan yaitu berhaji pada saat merebaknya wabah Covid-19 di tahun 2020 dan 2021. Walaupun secara fisik dan finansial telah terpenuhi, karena ada ancaman keamanan dan keselamatan individu dan kolektif, negara dapat membatalkan seseorang untuk menunaikan haji.
Panggilan Haji
Sejak jamaah haji memulai ihram, sepanjang perjalanan menuju Mekah, dan selama melaksanakan ibadah haji hingga melakukan thawaf Ifadhah, tak henti-hentinya mereka mengumandangkan talbiyah.
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيكَ لَكَ
Aku sambut panggilan-Mu, ya Allah, aku sambut panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, aku sambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah milik-Mu, begitu pula kerajaan. Tiada sekutu bagi-Mu.
Talbiyah merupakan ikrar jamaah haji yang menunjukkan sambutan ruhani atas panggilan Allah SWT sekaligus menunjukkan kesiapan dan ketaatan mereka untuk melaksanakan ibadah haji dan pengakuan ketaatan kepada-Nya. “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj/22: 27). Imam al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT telah memanggil manusia untuk mengerjakan haji sejak zaman Nabi Ibrahim (Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Juz 12, 1408 H).
Itulah sebabnya, walaupun menjadi ibadah yang paling berat baik syarat maupun pelaksanaannya, berhaji memiliki magnet yang sangat kuat untuk menarik setiap muslim. Mereka datang dari segala penjuru, walaupun dengan bersusah payah.
Tentu saja setiap muslim memiliki keinginan berhaji sehingga menjadi muslim yang sempurna karena dapat melaksanakan seluruh rukun agama. Namun, kemampuan untuk menyahut panggilan Allah SWT itu berbeda antara satu dengan lainnya. Bergantung ketajaman batin dan ketinggian frekuensi nuraninya. Beruntunglah muslim yang nuraninya tajam sehingga mudah menyahut dan dimudahkan pula jalannya. Banyak pula muslim yang punya keinginan kuat, namun jalannya belum terbuka. Oleh karena itu, muslim yang tidak mampu berhaji bukan berarti dia muslim yang tidak sempurna.
Arafah: Pertautan Kesadaran Kognitif dan Moral-Spiritual
Arafah adalah salah satu titik sentral ibadah haji karena tempat ini merupakan lokasi wukuf, yaitu salah satu rukun haji yang paling penting. Wukuf di Arafah adalah momen penting dalam ibadah haji, di mana jamaah haji berkumpul di padang Arafah untuk berdoa, bermunajat, memohon ampunan kepada Allah SWT, dan melakukan refleksi. Secara etimologi wukuf berarti berhenti, berdiam diri. Cara paling tepat untuk melakukan refleksi tentu dalam posisi berhenti dan berdiam diri agar konsentrasi tidak buyar.
Lautan manusia dari berbagai penjuru dunia berkumpul dalam balutan lembar dan warna pakaian ihram yang sama. Tidak ada lagi simbol kelas dan strata sosial yang didemonstrasikan. Semua sama dan setara. Ditambah dengan atmosfir spiritual yang kuat serta totalitas berserah diri, situasi seperti ini sangat cocok untuk membangun ruang bagi proses berpikir mendalam terhadap pengalaman, pikiran, atau tindakan masa lampau karena dilakukan saat individu dalam kondisi yang mendukung keterbukaan pikiran, ketenangan emosi, dan keterhubungan makna. Ini penting untuk memastikan refleksi tidak bias oleh emosi yang intens. (D. Boud, R. Keogh, & D. Walker, 1985). Selain itu, rasa aman yang tercipta dari sikap berserah diri secara total memungkinkan proses refleksi berlangsung sangat efektif karena adanya keterbukaan dan kejujuran (J. Mezirow, 1991).
Akhirnya sampai kepada kesadaran tentang siapa dirinya di hadapan Tuhan Sang Pemilik alam dan kehidupan. Dengan begitu dia menyadari kesalahan untuk tidak diulangi; kelemahan dan keterbatasan untuk tidak dimanipulasi sebagai kekuatan dan kedigdayaan. Oleh karena itu menjadi penting untuk selalu terkoneksi dengan Tuhan agar berada dalam bimbingan dan rahmat-Nya.
Ada sebuah ungkapan yang sangat terkenal di kalangan Sufi, “siapa yang mengenali dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” “من عرف نفسه فقد عرف ربه” Tepat sekali, tempat wukuf dinamakan Arafah yang berasal dari kata “arafa” yang berarti “mengenal” atau “mengetahui”. Maksudnya Arafah menjadi tempat yang tepat seseorang untuk mengenal jati dirinya melalui refleksi yang disertai dengan doa dan pengharapan agar dia mampu mengenal Tuhannya dengan baik. Wallahu a’lam bis-sawab.
Syafi’I (Kepala Pusbangkom Manajemen, Kepemimpinan dan Moderasi Beragama Kemenag)
















