Koranindopos.com, KOTA TANGSEL – Mengejutkan. Sejak Januari – Oktober 2022, jumlah kasus kekerasan anak dan perempuan di Tangsel cukup tinggi. Tercatat 219 kasus.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangsel Khairati mengungkapkan, sampai saat ini, ada 219 laporan kasus kekerasan anak dan perempuan di Kota Tangsel.
’’Itu yang sudah tertangani, yang sudah selesai, dan masih ada dalam proses. Rata-rata penyelesaian kasus kekerasan itu enggak sebulan, dua bulan, tapi bisa tahunan. Karena itu, ada trauma psikologisnya. Healing harus diberikan kepada anak-anak yang menjadi korban,’’ katanya kepada awak media di kawasan BSD City, Serpong, pada Kamis (20/10/2022).
Khairati menyampaikan, di antara 219 kasus itu, ada 116 kasus pada anak. Lainnya, ada KDRT dan kasus pada perempuan dewasa. ’’Tapi, yang khusus anak, ada 116 kasus. Dari 116 kasus itu, 52 kasus adalah kasus pencabulan dan kekerasan seksual. Jadi, cukup mengambil porsi yang besar,’’ ungkapnya.
Dari ratusan kasus itu, paling banyak terjadi di wilayah Pamulang, Ciputat, dan Pondok Aren. Sebab, penduduk tiga wilayah tersebut cukup padat. ’’Selain padat dan rumahnya mepet, permukiman padat, dan dinamika tinggi, kan pinggir jalan ya. Stasiun ada, pasar ada, jadi kemungkinan kasus terjadi besar. Kan kalau kita lihat kejadian itu kadang-kadang pelaku bukan orang Tangsel, tapi pendatang. Kami imbau masyarakat untuk aware ke lingkungan dan pengawasan orang tua terhadap anak di bawah umur,’’ katanya.
Dia menuturkan, yang menjadi perhatian pihaknya bahwa ternyata pelaku kasus kekerasan itu tidak hanya dilakukan orang dewasa, tapi juga anak-anak. Menurut dia, hal tersebut terjadi karena pengaruh media sosial dan mudahnya video porno diakses anak-anak. ’’Ini juga salah satunya (penyebab) pengaruh medsos. Video porno yang mungkin gampang mereka akses ini membuat anak-anak berimajinasi yang aneh-aneh,’’ ujarnya.
Jumlah kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan pada 2022 meningkat cukup signifikan. Pada Januari hingga Desember 2021, kekerasan anak dan perempuan sebanyak 171 kasus. ’’Tahun ini belum selesai kan. Belum sampai akhir. Jadi, cukup meningkat,’’ ucapnya. (jkr/mmr)










