Koranindopos.com, Jakarta – Kolaborasi antara SevenKey dan gitaris /rif, Jikun, ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih dalam daripada sekadar pertemuan dua musisi lintas genre. Jika selama ini Jikun identik dengan agresivitas gitar rock, maka proyek terbaru SevenKey justru menjadi ruang refleksi yang membuatnya menata ulang pendekatan bermusik.
Single bertajuk “Selamanya Kamu” resmi dirilis pada pertengahan November 2025. Di balik hasil akhirnya yang rapi dan pop, proses kreatifnya memperlihatkan bagaimana seorang gitaris senior membuka diri untuk mempelajari bahasa musik yang berbeda dari zona nyamannya.
Dalam perbincangan pada Kamis (13/11), Jikun mengungkap bahwa ia memasuki proyek ini bukan sebagai tamu, melainkan sebagai “murid” yang bersedia menyesuaikan diri dengan format SevenKey. Menurutnya, hal pertama yang harus ia lakukan adalah mengosongkan kepala dari karakter rock yang selama puluhan tahun melekat erat.
“Kan musik kami beda banget. Ketemu SevenKey mereka pop banget, jadi saya harus menghilangkan musik lama saya,” ujar Jikun.
Upaya tersebut tidak berhenti sebagai wacana. Ia membatasi dirinya dari seluruh materi /rif, termasuk lagu-lagu yang pernah ia ciptakan sendiri, selama hampir tiga bulan. Langkah itu dilakukannya agar permainan gitarnya tidak secara otomatis kembali pada pola lama.
“Saya kira-kira tiga bulan nggak mendengarkan lagu lama saya, supaya musik yang saya buat nggak kecampur,” tambahnya.

Bagi Jikun, proses ini menjadi bentuk latihan untuk mengasah kepekaan. Ia ingin hadir sebagai bagian dari SevenKey, bukan sekadar menempelkan label “gitaris rock” di atas komposisi pop milik band tersebut. Ia mendengarkan struktur lagu, berdiskusi soal dinamika, hingga menyesuaikan warna gitar agar selaras dengan karakter vokal dan progresi pop modern yang menjadi ciri SevenKey.
Sementara di sisi lain, SevenKey melihat kehadiran Jikun sebagai kesempatan memperluas palet musik mereka. Bukan semata meminjam pamor /rif, tetapi mencari sentuhan gitar yang mampu menambah kedewasaan tone tanpa meninggalkan identitas pop yang sudah mereka bangun.
Proses rekaman berlangsung intens dengan diskusi berulang. SevenKey meminta kedalaman emosi melalui gitar, sedangkan Jikun menekankan agar setiap lapisan petikan tetap terdengar hangat namun halus. Hasilnya adalah komposisi pop kontemporer dengan warna gitar yang terasa lebih “mature”, namun tetap menyisakan jejak khas permainan tangan Jikun yang sudah dikenal publik sejak era 2000-an.
Pendengar yang mengikuti perjalanan /rif mungkin akan merasakan kejutan, tetapi bagi Jikun, proyek ini menjadi bukti bahwa seorang musisi tidak pernah berhenti berkembang. Ia menganggap kolaborasi ini sebagai proses belajar yang menyegarkan.
Dalam lanskap musik Indonesia yang sering mengulang pola, langkah SevenKey untuk merangkul musisi lintas genre menjadi manuver menarik. Keduanya tidak hanya bertemu di tengah, tetapi saling membuka ruang untuk bereksperimen tanpa kehilangan jati diri masing-masing.
“Selamanya Kamu” pun akhirnya berdiri sebagai karya yang mempertemukan dua generasi dan dua pendekatan bermusik. Jika geliat kolaborasi ini berlanjut, bukan tidak mungkin keduanya akan menghasilkan eksplorasi yang lebih ekstrem di kemudian hari. (Brg/Kul)










