Dalam sambutannya, Prabowo menyoroti banyaknya kesamaan yang dimiliki antara Indonesia dan Brasil, baik dari segi sumber daya alam maupun visi strategis untuk masa depan kedua negara. Ia menyatakan bahwa meskipun Brasil sudah lebih maju dalam sektor industri, Indonesia tengah berusaha mengejar ketertinggalan melalui industrialisasi yang lebih masif.
“Indonesia dan Brasil adalah negara besar dengan populasi yang besar pula. Kita memiliki sumber daya alam yang melimpah. Brasil sudah maju dalam industrinya, sementara Indonesia sedang berusaha menyusul melalui industrialisasi. Saya yakin, kita bisa menciptakan sinergi yang baik dan hubungan yang saling menguntungkan,” ungkap Prabowo dalam acara yang juga dihadiri oleh sejumlah menteri kabinet Indonesia, termasuk Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga mengungkapkan niat Indonesia untuk menjadi anggota BRICS (Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan), sebuah kelompok negara dengan ekonomi berkembang yang semakin memainkan peran penting dalam perekonomian global. BRICS dikenal sebagai aliansi negara-negara dengan potensi ekonomi besar yang memiliki pengaruh global yang semakin berkembang.
“Saya telah mengirim Menteri Luar Negeri untuk menghadiri KTT BRICS di Kazan, hanya sehari setelah kabinet saya dilantik. Indonesia ingin bergabung dengan Brasil dan negara anggota BRICS lainnya,” kata Prabowo, yang juga menegaskan bahwa bergabung dengan BRICS akan memperkuat posisi Indonesia di kancah ekonomi dunia.
Selain itu, Prabowo juga menyoroti pentingnya ketahanan pangan dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Ia mengungkapkan bahwa salah satu prioritas pemerintahannya adalah memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan akses ke makanan yang cukup, dengan mengadaptasi beberapa program sosial yang telah berhasil dijalankan Brasil, seperti program pemberian makanan gratis untuk anak-anak.
“Saya ingin belajar dari keberhasilan Brasil dalam program pemberian makanan gratis ini dan telah meminta tim saya untuk bekerja sama lebih lanjut dengan Duta Besar Brasil di Indonesia,” tambah Prabowo.
Prabowo juga membahas potensi kerja sama antara Indonesia dan Brasil di sektor energi, khususnya dalam pengembangan biofuel dan energi terbarukan. Indonesia berambisi untuk meningkatkan penggunaan biodiesel hingga 50 persen pada tahun 2025, dengan memanfaatkan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku utama. Dalam hal ini, Brasil, yang memiliki pengalaman luas dalam sektor bioenergi, diharapkan dapat menjadi mitra strategis Indonesia dalam pengembangan energi terbarukan.
Selain itu, sektor kemaritiman juga menjadi topik penting dalam forum ini. Indonesia, yang memiliki cadangan perikanan terbesar kedua atau ketiga di dunia, mengungkapkan kebutuhan mendesak akan 40.000 kapal penangkap ikan berkapasitas 150-300 GT. Prabowo mengundang para pengusaha Brasil untuk berinvestasi dalam sektor ini, serta mendukung program hilirisasi sumber daya alam Indonesia.
Prabowo juga menegaskan komitmen Indonesia untuk menciptakan iklim bisnis yang positif dan terbuka bagi investasi asing. Indonesia, kata Prabowo, bertekad menciptakan lingkungan yang kondusif untuk investasi, guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Saya ingin memastikan bahwa Indonesia terbuka bagi investor dari seluruh dunia. Kami bertekad untuk menciptakan iklim bisnis yang positif,” ujar Prabowo.
Dalam acara ini, Prabowo didampingi oleh sejumlah pejabat tinggi Indonesia, termasuk Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, dan Duta Besar RI untuk Brasil Edi Yusup.
Dengan adanya forum ini, diharapkan dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara Indonesia dan Brasil, yang tidak hanya bermanfaat bagi kedua negara, tetapi juga bagi kawasan global secara keseluruhan.(dhil)










