Selasa, 6 Oktober 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Kesehatan

Waspada Ibu Kurang Gizi, Anak yang Hanya Andalkan ASI Bisa Terancam Stunting

Editor : Affandy oleh Editor : Affandy
10 September 2026
in Kesehatan
A A
0
Waspada Ibu Kurang Gizi, Anak yang Hanya Andalkan ASI Bisa Terancam Stunting

Foto: dok. istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

Koranindopos.com – JAKARTA — Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi penting bagi bayi, terutama selama enam bulan pertama kehidupan. Namun, keberhasilan memberikan ASI eksklusif bukan satu-satunya faktor yang menentukan kecukupan gizi dan pertumbuhan anak.

Setelah memasuki usia enam bulan, kebutuhan nutrisi anak semakin meningkat sehingga harus dipenuhi melalui makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi dan seimbang.

Dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, kecukupan dan kualitas asupan gizi menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Karena itu, perhatian terhadap gizi tidak dapat berhenti pada keberhasilan pemberian ASI. Kondisi kesehatan dan kecukupan gizi ibu menyusui juga perlu diperhatikan agar kebutuhan ibu dan anak tetap terpenuhi.

Artikel Terkait

Mengenal Kelenjar Pituitari: Waspadai Sakit Kepala Hingga Gangguan Penglihatan Sejak Dini

Wabah Ebola di Kongo Tewaskan 4.018 Orang, Kasus Tembus 8.300

Kasus Campak di AS Tembus 3.887 pada 2026, Lampaui Total Tahun Lalu

Persoalan tersebut menjadi salah satu temuan dalam kunjungan rumah yang dilakukan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama mitranya kepada keluarga yang memiliki balita dengan masalah gizi atau terindikasi stunting.

Sekretaris Jenderal YAICI Satria Yudhistira mengatakan, status gizi dan kondisi kesehatan ibu masih menjadi aspek yang kerap luput dari perhatian dalam kampanye pemberian ASI.

Menurut dia, terdapat kondisi medis tertentu yang dapat memengaruhi kemampuan seorang ibu dalam memproduksi ASI.

“Salah satu yang paling sering luput dari sorotan kampanye adalah status gizi ibu dan kondisi kesehatan yang secara medis memang menghambat produksi ASI. Gangguan hormonal, komplikasi pasca melahirkan, hingga berbagai kondisi klinis lain dapat membuat ASI tidak keluar secara memadai, betapapun keras seorang ibu berusaha dan betapapun besar keinginannya untuk menyusui anaknya sendiri,” jelas Satria.

Dalam kunjungan ke sejumlah keluarga di Kota Ternate, Maluku Utara, YAICI menemukan kondisi gizi ibu menyusui masih menjadi persoalan.

Asupan nutrisi ibu yang belum memadai dapat menjadi tantangan bagi kesehatan ibu sekaligus pemenuhan kebutuhan gizi anak yang masih menyusu.

Salah satu kasus ditemukan pada Arsya, balita berusia 2,5 tahun yang tinggal di Kota Baru, Kota Ternate.

Arsya diketahui telah terpapar kental manis sejak masa pemberian MPASI. Orangtuanya mengaku belum mengetahui risiko pemberian makanan atau minuman tinggi gula kepada anak sejak usia dini.

Orangtua Arsya juga sebelumnya merasa kebutuhan gizi anak telah terpenuhi karena sang anak mendapatkan ASI sejak bayi.

“Kan sudah dikasih ASI. Tapi kata petugas posyandu berat badannya masih kurang,” ujar sang ibu.

Kondisi serupa ditemukan pada Fadilla, balita berusia tiga tahun di wilayah yang sama.

Orangtua Fadilla merasa telah memberikan ASI yang cukup sejak bayi. Namun, hasil penimbangan di posyandu menunjukkan berat badan anak masih belum sesuai target.

Penelusuran terhadap pola makan keluarga kemudian menunjukkan persoalan lain. Asupan makanan keluarga, terutama sumber protein, dinilai masih belum mencukupi.

Keluarga tersebut mengaku tidak rutin mengonsumsi sumber protein seperti telur dan ikan.

“Ikan makan kadang-kadang, mahal,” jawab mereka.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan gizi anak membutuhkan perhatian secara menyeluruh, bukan hanya mengandalkan satu sumber asupan.

Guru Besar sekaligus dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang pediatri sosial FKUI, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), Subsp.TKPS, mengatakan pemberian susu pertumbuhan bukan sesuatu yang sepenuhnya dilarang.

Menurut Rini, susu pertumbuhan dapat dipertimbangkan dalam kondisi tertentu, terutama untuk anak yang telah berusia di atas satu tahun.

“Jadi sebenarnya kalau dibutuhkan ya. Jadi kalau misalnya anak di atas setahun diperkenalkan susu formula, boleh. Tapi kalau ibunya masih memberikan ASI, boleh,” ungkap Rini.

Ia menjelaskan, susu pertumbuhan juga dapat menjadi salah satu alternatif ketika pemberian ASI mulai berkurang.

Namun, pemberian susu tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Orangtua juga perlu memperhatikan kandungan gula serta jenis produk yang diberikan.

“Tapi jika dilihat kebutuhan ASI-nya berkurang, MPASI-nya sudah tidak diberikan, ibunya mau memberikan alternatif susu formula, tidak masalah,” jelasnya.

Dengan demikian, pemberian susu setelah anak berusia lebih dari satu tahun tidak serta-merta berarti ASI harus dihentikan. Keduanya dapat diberikan sesuai kondisi dan kebutuhan anak.

Memasuki usia enam bulan, kebutuhan nutrisi anak meningkat sehingga ASI perlu didampingi dengan MPASI yang memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi.

MPASI sebaiknya tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mengandung beragam zat gizi, termasuk sumber protein seperti telur, ikan, daging, maupun sumber protein lainnya sesuai kemampuan dan kondisi keluarga.

Kasus yang ditemukan YAICI di Ternate menjadi gambaran bahwa keterbatasan ekonomi dan pengetahuan mengenai gizi dapat memengaruhi pola makan keluarga.

Karena itu, edukasi mengenai gizi perlu diberikan tidak hanya kepada ibu, tetapi juga kepada keluarga secara keseluruhan.

Di sisi lain, upaya meningkatkan pemberian ASI eksklusif tetap perlu berjalan bersamaan dengan kebijakan yang mendukung kondisi ibu.

Dukungan tersebut dapat berupa cuti melahirkan dan menyusui yang memadai, fasilitas laktasi di tempat kerja, layanan kesehatan fisik dan mental, serta keterlibatan pasangan dan keluarga dalam pengasuhan.

Kampanye ASI eksklusif juga perlu dilakukan tanpa memberikan stigma kepada ibu yang tidak mampu memberikan ASI secara eksklusif karena kondisi medis maupun berbagai faktor lainnya.

Label seperti “anak sapi” atau “ibu malas” terhadap ibu yang memberikan susu pertumbuhan justru dapat menambah tekanan kepada keluarga.

Pada akhirnya, pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. ASI tetap memiliki peran penting, tetapi kesehatan dan gizi ibu, kecukupan MPASI, kualitas makanan, sumber protein, serta kondisi kesehatan anak juga harus diperhatikan.

Dengan memastikan seluruh aspek tersebut terpenuhi sesuai kebutuhan, peluang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal dapat semakin besar.(dhil)

Topik: ASIkurang gizi

TerkaitBerita

Mengenal Kelenjar Pituitari: Waspadai Sakit Kepala Hingga Gangguan Penglihatan Sejak Dini
Kesehatan

Mengenal Kelenjar Pituitari: Waspadai Sakit Kepala Hingga Gangguan Penglihatan Sejak Dini

oleh Editor : Akula
5 Oktober 2026
Wabah Ebola di Kongo Tewaskan 4.018 Orang, Kasus Tembus 8.300
Kesehatan

Wabah Ebola di Kongo Tewaskan 4.018 Orang, Kasus Tembus 8.300

oleh Editor : Affandy
4 Oktober 2026
Kasus Campak di AS Tembus 3.887 pada 2026, Lampaui Total Tahun Lalu
Kesehatan

Kasus Campak di AS Tembus 3.887 pada 2026, Lampaui Total Tahun Lalu

oleh Editor : Affandy
3 Oktober 2026
Mengenal Smartphone Brain, Kebiasaan Main HP yang Bisa Ganggu Fokus hingga Tidur
Kesehatan

Mengenal Smartphone Brain, Kebiasaan Main HP yang Bisa Ganggu Fokus hingga Tidur

oleh Editor : Affandy
2 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Direkomendasikan

ATUR STRATEGI: Aksi John Herdman di pinggir lapangan mengatur strategis skuad Garuda pada laga FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Thailand. (Foto: (c) Budy Santoso)

Strategi Jitu John Herdman Kunci Kemenangan Skuad Garuda di Puncak FIFA ASEAN Cup 2026

6 Oktober 2026
PELINDUNGAN PEKERJA: Tenaga kerja melakukan perakitan kendaraan roda empat. (Foto Ilustrasi: Bloomberg/Kevin Lee)

Hari Ini RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Disahkan

6 Oktober 2026
KELOMPOK MILISI: Pasukan Houthi di Yaman. (Foto Ilustrasi: dok./ REUTERS/Khaled Abdullah)

Militer Yaman Klaim Bunuh 700 Anggota Houthi

6 Oktober 2026
Bank Jakarta Siapkan Duplikasi Biodigester ke Wilayah Lain di Jakarta

Bank Jakarta Siapkan Duplikasi Biodigester ke Wilayah Lain di Jakarta

5 Oktober 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    4895 shares
    Share 1958 Tweet 1224
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    1004 shares
    Share 402 Tweet 251
  • Laga Awal Musim Membuka Peluang AC Milan Berkembang

    341 shares
    Share 136 Tweet 85
  • Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

    372 shares
    Share 149 Tweet 93
  • Posting Kalimat Galau di Instagram, Ada Apa Dengan Yogie Nandes?

    313 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya